"Selamat kepada 14 Partai Politik Nasional dan 4 Partai Politik Lokal Aceh yang lolos menjadi peserta Pemlihan Umum Tahun Tahun 2019"
Custom Search

Friday, 2 March 2018

RSD dr Soebandi Jember Minta Maaf Melarang Peliputan Media

Jember, MAJAH-GEMPUR.Com.  Dirut RS dr Soebandi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember Jawa Timur, dr Arif Setyoargo meminta maaf atas penolakan peliputan sejumlah wartawan beberapa waktu lalu.

“Pada intinya, pihak rumah sakit sangat wellcome untuk media dalam keperluan peliputan. Kita minta maaf ya, yang kemarin,” Demikian disampaikan dr Arif Setyoargo, saat pertemuan dengan puluhan wartawan di Aula lantai tiga RS dr Soebandi Pemkab Jember Jumat (2/3/2018). 

Agar tidak terjadi lagi kesalah fahaman, dr Arif berjanji kedepan akan mempermudah alur birokrasi dalam hal peliputan media, “Memang ada lokasi tertentu yang tidak bisa, misalkan di ruang operasi, ruang bayi, ruang IGD dan ruang rawat inap, namun ada juga ruang yang boleh dan itu ada koordinasi izin”, jelasnya.

Hadir dalam  dimediasi,yang di fasilitasi Kabag Humas, Herwan, perwakilan wartawan yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Independen (AJI),  Forum Wartawan Lintas Media (FWLM), Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), Komunitas Jurnalis Media Online (Komen).

Sementara dari pihak Rumah Sakit Daerah  (RSD) Pemkab Jember dr Seobandi adalah Wakil Direktur RSD dr Soebandi Bidang Pelayanan Medis dr Arif Setyoargo, para Kasi dan Kepala Bagian, yang di gelar di Aula pertemuan RSD dr Soebandi Jember.

Menurut Sekretaris AJI Jember, M Mahrus, bahwa RSD dr Soebandi merupakan institusi pelayanan publik yang seharusnya terbuka. “Kita sepakat, ada etika yang harus saling dihormati. Kedepan perlu dirumuskan prosedur tetap tata aturan peliputan yang bisa disepakati bersama," ujar Mahrus. 

Dia juga menyesalkan pelarangan peliputan oleh pihak keamanan di ruang IGD. Padahal waktu itu prosedur izin kepada Direktur Utama, sudah dilakukan oleh para Jurnalis. Hal itu diamini Isma (TV Polri), Guntur (Suaraindonesianews.com) dan  Tomi Iskandar dari media SCTV-Indosiar. 

Untuk itu mereka mendesak agar pihak keamanan maupun perawat jaga rumah sakit tidak arogan. Kedepan pihak rumah sakit harus menjelaskan dan mensosialisasikan batasan-batasan mana saja yang boleh maupun tidak boleh dalam pengambilan gambar dan foto.

Sementara Kabag Humas Pemkab Jember Herwan menyampaikan, dalam pertemuan media dengan pihak rumah sakit sudah ada titik kesepahaman. “Intinya, liputan media saling memudahkan, namun tetap harus memperhatikan aturan dan etika masing-masing pihak,” tandasnya. (edw).

Kronologi Larangan Peliputan Media
Pada Rabu (28/2/2018) menjelang petang, sejumlah wartawan menunggu kedatangan resmob barat yang sedang membawa pelaku pembegalan ke RSD dr  Soebandi dengan maksud untuk meliput dan mengambil gambar datangnya pelaku yant ditembak kakinya oleh kepolisian (dilakukan pengobatan)

Sekitar pukul 18:00 WIB, Resmob barat pun datang, Merekapun mengambil gambar dengan memotret dan merekam video.  Saat pelaku dikeluarkan dari mobil dan dibawa ke dalam, dihalangi security untuk mengambil gambar, mereka menutupi pandangan kamera kami dengan banner larangan menggunakan kamera.

Dan saat dihalangi oleh petugas security, salah satu teman kami bernama Minto Setyo Wahono pun berusaha menyodorkan bukti chat bahwa telah ijin kepada Dirut RSD.dr. Soebandi untuk mengambil gambar, namun security tidak menggubris dan tetap menghalangi

Kejadian dihalanginya kami tepatnya dimulai pukul 18:04 WIB pada hari tersebut. Mereka merasa kecewa dengan sikap demikian kepada wartawan, dan merasa tidak puas dengan manajemen RSD. dr. Soebandi Jember dalam hal perijinan peliputan yang terkesan "dibatasi" dan "dibredel"

Sejumlah wartawan yang saat itu akan melakuan peliputan  adalah  Guntur Rahmatullah (suaraindonesia-news.com),  Minto Setyo Wahono (penanusantara.id), - Tomi Iskandar (Sctv-Indosiar) dan  Hernawan Mustika (Kompas TV) serta   Suyono  Jember.

Berita Terkait Kesehatan

No comments: