"Selamat kepada 14 Partai Politik Nasional dan 4 Partai Politik Lokal Aceh yang lolos menjadi peserta Pemlihan Umum Tahun Tahun 2019"
Custom Search

Monday, 30 April 2018

Peserta Calon Kades PAW Di Jember Protes Hasil ujian

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Para peserta seleksi calon Kepala Desa (Kades) Pergantian Antar Waktu (PAW) di Desa Nogosari, Kecamatan Rambipuji, Jember tak lolos, Senin (30/4/2018) protes hasil ujian.

Mereka mempermasalahkan, lantaran menganggap bahwa pelaksanaan ujian tersebut diduga sarat dengan kecurangan, bahkan mereka menuding ada oknum pegawai di Pemerintah Kecamatan Rambipuji yang membocorkan jawaban soal yang diujikan.

Protes dilakukan setelah tiga nama peraih skor tertinggi dalam ujian tertulis pada Senin 23 April lalu. Ada tujuh bakal calon kades yang mendaftar. Mereka adalah Yudi Hermawan alias Dodik, Esa Hosada, Bambang Sulistyohadi, Sugeng Marijanto, Sutrisno, Yudi Hermawan alias Haji Bagong, dan Abd Wahab.

Scor tertinggi yang resmi menyandang sebagai calon kades dan bakal mengikuti pemilihan melalui mekanisme PAW yang dijadwalkan pada Rabu 9 Mei mendatang masing-masing diraih Esa Hosada, Sugeng Marijanto, serta Yudi Hermawan alias Haji Bagong.

Dengan membawa pengeras suara dan poster bernada tuntutan, dua bakal calon, Sutrisno dan Abd Wahab, bersama massa datangi Kantor Kecamatan Rambipuji. "Yang jelas warga menuntut tiga hal dari kecurangan dan tidakbenaran seleksi calon Pilkades PAW," kata Abd Wahab.

Menurut pria yang juga koordinator aksi ini, ada tiga tuntutan tersebut yakni pembatalan pelaksanaan Pilkades PAW, usut tuntas oknum-oknum yang terlibat dalam kebocoran soal, dan menuntut Camat Rambipuji dicopot dari jabatannya karena dinilai tak layak dan tak mampu membawa amanah warga Desa Nogosari.

Tuntutan itu menurut Wahab tidaklah berlebihan. Sebab dirinya meyakini adanya kecurangan tersebut "sangat jelas". Bahkan dia mengklaim telah memiliki saksi dan sejumlah bukti, juga kronologi yang dapat menjelaskan bahwa memang ada upaya terencana untuk mencurangi pelaksanaan tes tertulis ini.

Kronologi itu,  telah disampaikan kepada Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Rambipuji dan jajaran Polres Jember. Usai berunjukrasa, dirinya bakal melaporkan kasus ini ke Polres Jember agar diusut secara hukum "Bukti permulaan yang kami miliki juga sudah ada," katanya.

Salah satu bukti yang dimiliki adalah pesan singkat alias sms dan panggilan lewat telepon selular. Pesan tersebut berisi tulisan; "kalau bapak mau...... (titik - titik)? Tolong temui saya dirumah". Pesan ini oleh Wahab diasumsikan sebagai upaya lobi untuk membocorkan kunci jawaban soal-soal ujian.

Wahab juga berkata, sebelum tangkapan layar pesan itu beredar, ada serangkaian peristiwa yang dianggapnya mengarah ke aksi curang. Salah satunya pernyataan panitia pelaksana yang menyebutkan soal ujian ada dua dan akan diundi sebelum tes dimulai. Namun pernyataan itu berbeda dengan fakta di lapangan.

Panitia tak mengundi soal mana yang akan diujikan, dan hanya satu soal yang disodorkan ke peserta untuk dikerjakan. "Mudah-mudahan Polres Jember diberi kemudahan dan hidayah sehingga orang-orang atau oknum-oknum yang merusak kebaikan serta keadilan bisa terungkap," harapnya.

Camat Rambipuji, Poerwoadi, membantah tudingan tersebut. Untuk itu dirinya menyilakan pihak-pihak yang tak terima membuktikan tuduhannya. Dia juga menyerahkan sepenuhnya kasus ini ke kepolisian agar segera diselidiki jika memang ada indikasi kecurangan.

Karena ia berharap, hasil penyelidikan itu dapat menjernihkan masalah sehingga benar-benar sesuai harapan bersama. "Saya tidak main-main. Bersama Muspika dari awal kami sudah mengawal begitu rapi dan begitu baik. jika ada masalah silakan usut tuntas sehingga ini benar-benar jernih, sejernih-jernihnya," ucapnya.

Dua soal itu bukan untuk diundi, melainkan antisipasi jika ada nilai ujian sama, itu terbukti, dua peserta yaitu Abd Wahab dan Yudi Hermawan alias Haji Bagong memperoleh nilai sama. Kedua peserta ini mengikuti tes lanjutan dengan soal cadangan.  "Sebelumnya juga tidak ada [protes]. Semua sudah menandatangani berita acara menerima hasil tes yang dilaksanakan pada tanggal 23 April yang lalu," tukasnya.

Komandan Koramil Rambipuji, Kapten Endro BKH, mengaku heran tudingan kecurangan ini. Pasalnya proses pembuatan 50 soal pilihan ganda  itu dilakukan secara terpisah dan dibagi ke tiga pimpinan instansi. Dirinya membuat 15 pertanyaan, sedangkan Kapolsek 15 pertanyaan dan Camat 20 pertanyaan.

Jika bocor satu pihak saja, maka tak mungkin bisa menjawab semua soal karena masing-masing pembuat tak mengetahui pertanyaan dalam soal yang diujikan. " Saya juga ingin tahu siapa yang membocorkan. Karena staff saya saja tidak tahu soal apa yang saya buat," tandasnya. (ruz)

Berita Terkait Politik dan Hukum

No comments: