Selamat Hari Jadi Jember ke 96

https://draft.blogger.com/blog/page/edit/1360945809311009771/7858131956542366929

Translate

Iklan

Kartini Banget, Warga Jemberlor Senam Gayatri Pakai Kebaya

Majalah Gempur
Sabtu, 25 April 2026, 11.48 WIB Last Updated 2026-04-25T04:58:23Z

Lurah Jemberlor Zaim Ilmi Bersama Pengurus Senam Gayatri di pendopo Kantor Kelurahan (foto : Wahyu/Eros)

Jember MAJALAH-GEMPUR.Com
- Warga Kelurahan Jemberlor Kecamatan Patrang Kabupaten Jember memperingati Hari Kartini dengan menggelar Senam Gayatri dan lomba fashion show busana nasional, Jumat (24/4/2026).

Kegiatan yang dimulai pukul 07.00 WIB tersebut merupakan bagian dari agenda rutin senam setiap hari Jumat Pagi. Namun, pagi itu berbeda dalam peringatan Hari Kartini kali ini, seluruh peserta diwajibkan mengenakan kebaya.

Lurah Jemberlor, Zaim Ilmi, menyadari bahwa peringatan seperti ini bukan sekadar seremoni tahunan. Menurut dia, kegiatan tersebut adalah upaya menghadirkan kembali makna Kartini dalam keseharian warga.


“Ini bukan hanya soal senam atau peringatan seremonial. Kami ingin masyarakat merasakan bahwa nilai Kartini itu hidup, salah satunya melalui kebaya yang kita pakai bersama hari ini,” ujarnya.


Bagi Zaim, kebaya menjadi medium yang menjembatani masa lalu dan masa kini. Ia menilai, ketika warga mengenakannya dalam aktivitas publik, ada proses internalisasi nilai budaya yang terjadi secara alami.


“Kebaya itu bukan sekadar pakaian tradisional, tapi identitas. Ketika dipakai bersama dalam kegiatan seperti ini, ada rasa bangga dan kebersamaan yang tumbuh,” katanya.


Namun, ruang ekspresi warga tidak berhenti pada gerakan senam. Setelah itu, suasana beralih menjadi panggung perayaan keberagaman melalui lomba fashion show busana nasional. Di sini, warga tampil percaya diri mengenakan berbagai pakaian adat dari penjuru Nusantara.


Langkah para peserta di atas panggung sederhana bukan hanya tentang penampilan, tetapi juga tentang representasi bahwa Indonesia berdiri di atas keberagaman yang dirayakan, bukan diseragamkan.


“Melalui lomba ini, kami ingin menunjukkan bahwa budaya kita sangat kaya. Warga bisa saling mengenal dan menghargai perbedaan lewat busana yang mereka tampilkan,” tutur Ilmi.


Sorak sorai penonton, tepuk tangan, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menghadirkan suasana hangat yang sulit dilepaskan dari makna kebersamaan. Di titik ini, peringatan Hari Kartini tidak lagi terasa formal, melainkan hidup menyatu dalam interaksi sosial warga.


Bagi masyarakat Jemberlor, pagi itu menjadi pengingat bahwa merawat warisan budaya tidak harus melalui cara yang kaku. Ia bisa hadir dalam bentuk yang ringan, dekat, dan membumi seperti senam bersama, kebaya yang dikenakan, dan langkah percaya diri di atas panggung.


Di balik semua itu, terselip satu pesan yang terus bergaung bahwa mengenang Kartini bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana nilai-nilainya diterjemahkan dan dijalankan hari ini. (Wahyu/Eros)
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Kartini Banget, Warga Jemberlor Senam Gayatri Pakai Kebaya

Terkini

Close x