Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com - Warga Kelurahan Jember Lor, Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember, Jawa Timur, melakukan pembersihan rumpun bambu yang menyumbat aliran sungai sebagai upaya pencegahan banjir di wilayah RW 25 Wetan Kantor Kelurahan setempat.
Kegiatan yang berlangsung sejak Selasa (31/3) hingga Rabu (1/4) itu melibatkan berbagai elemen masyarakat, di antaranya warga sekitar, perangkat RT/RW, Taruna Siaga Bencana (Tagana), relawan, serta UPT Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai (PSDA WS) Bondoyudo Baru Lumajang.
Lurah Jember Lor Moh. Zaim Ilmi mengatakan pembersihan dilakukan secara gotong royong untuk mempercepat evakuasi rumpun bambu yang menghambat aliran air.
“Rumpun bambu yang berada di tengah sungai harus segera dibersihkan agar aliran kembali lancar. Jika tidak, berpotensi memicu luapan air dan merendam permukiman warga,” katanya.
Ia menjelaskan, rumpun bambu tersebut terseret arus akibat hujan deras yang mengguyur wilayah Jember dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tanah bantaran sungai yang labil menyebabkan bambu mudah roboh dan menutup aliran air.
Ketua RW 25 Wetan Kantor Jember Lor Rohkim mengatakan kebersihan sungai merupakan tanggung jawab bersama dan meminta warga meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.
“Jika tidak segera ditangani, saat hujan deras air bisa meluap dan masuk ke rumah warga,” ujarnya.
Rohkim menambahkan wilayah tersebut pernah dilanda banjir pada 15 Desember yang berdampak pada 44 kepala keluarga, namun kejadian akibat rumpun bambu tumbang baru pertama kali terjadi.
Sementara itu, perwakilan PSDA WS Bondoyudo Baru Amang mengapresiasi keterlibatan warga dalam kegiatan tersebut dan menilai langkah cepat itu efektif mengurangi risiko banjir.
“Pemantauan rutin kondisi sungai, terutama saat musim hujan, sangat penting untuk mencegah penyumbatan aliran air,” katanya.
Relawan Desa Tangguh Bencana (Destana) Kelurahan Jember Lor Istono menyebutkan wilayah tersebut dilintasi sejumlah sungai besar, yakni Sungai Rembangan, Kalijumpo, dan Bedadung, sehingga rawan terdampak luapan air saat curah hujan tinggi.
Menurut dia, penanganan banjir diupayakan dapat dilakukan kurang dari 1x24 jam melalui sistem koordinasi berjenjang dari tingkat RT, RW, hingga kelurahan.
“Kecepatan informasi menjadi faktor penting dalam meminimalkan dampak bencana,” ujarnya.
Ia menambahkan, dalam kondisi banjir, kebutuhan mendesak warga biasanya berupa makanan siap saji yang disalurkan oleh tim Tagana, serta koordinasi terus dilakukan dengan BPBD. (Wahyu/Eros)


