Selamat Hari Jadi Jember ke 96

https://draft.blogger.com/blog/page/edit/1360945809311009771/7858131956542366929

Translate

Iklan

Gus Kikin Buka Suara soal “Paket” Ketum PBNU, Nama Prabowo hingga Isu Head-to-Head dengan Gus Yahya

Majalah Gempur
Sabtu, 29 Agustus 2026, 17.27 WIB Last Updated 2026-08-29T10:27:48Z


Jombang, MAJALAH-GEMPUR.Com - Dinamika Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) semakin menarik perhatian. Setelah Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmat 2021-2026 yang disampaikan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya diterima peserta muktamar, Jumat sore (28/8/2026), bursa calon Ketua Umum PBNU memasuki fase yang semakin menentukan.

Di tengah situasi tersebut, nama KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menjadi salah satu figur yang paling banyak diperbincangkan. Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang sekaligus cicit Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari itu disebut-sebut sebagai salah satu kandidat kuat dalam perebutan kursi Ketua Umum PBNU.

Sebelum nama-nama tersebut mengerucut menjelang Muktamar, bursa Ketua Umum PBNU sebenarnya telah diwarnai sejumlah figur dari berbagai latar belakang. Salah satunya KH Marzuqi Mustamar, mantan Ketua PWNU Jawa Timur, yang sejak awal telah masuk dalam pemetaan kandidat. Bahkan, pada Februari 2026, nama KH Marzuqi Mustamar tercantum dalam daftar 14 kandidat Ketua Umum PBNU yang dirilis Institut Nahdliyin Nusantara (Insantara), bersama sejumlah tokoh NU dan pesantren lainnya.

Nama-nama lain juga bermunculan dan ikut menjadi bahan perbincangan, baik sebelum maupun ketika muktamar berlangsung. Selain Gus Yahya sebagai petahana dan Gus Kikin, nama Gus Rozin, Gus Salam, Gus Yusuf, KH Zulfa Mustofa dan sejumlah tokoh NU lainnya turut disebut dalam dinamika pencalonan.

Peta kandidat tersebut menunjukkan bahwa kontestasi kepemimpinan PBNU kali ini berlangsung cukup dinamis. Nama-nama yang sebelumnya mencuat belum tentu semuanya bertahan hingga tahap akhir, sementara figur lain bisa muncul atau menguat seiring berlangsungnya muktamar.

Menariknya, di tengah beredarnya berbagai nama dan “paket” calon, Gus Kikin justru memilih bersikap tenang.

Saat ditanya awak media mengenai paket-paket calon Ketua Umum PBNU yang beredar, Gus Kikin mengaku mengetahui adanya informasi tersebut.

“Ya saya baca. Orang bikinnya saya nggak tahu siapa yang bikin,” ujarnya.

Ketika ditanya bagaimana tanggapannya terhadap paket tersebut, Gus Kikin tidak ingin memberikan penilaian terlalu jauh.

“Ya susah nanggapi, orang itu memang nggak resmi,” katanya.

Namun, pembicaraan kemudian bergeser pada sebuah momen yang tak kalah menarik. Nama Gus Kikin sempat disebut oleh Presiden Prabowo Subianto dalam sebuah kesempatan. Saat itu, Gus Kikin diketahui berjalan di tengah dan kemudian kembali masuk setelah selesai menunaikan salat.

Awak media pun mencoba memastikan apakah momen tersebut sekadar kebetulan atau ada pesan tertentu.

“Itu kebetulan,” jawab Gus Kikin.

Pertanyaan kemudian diarahkan lebih tajam: apakah ada kode tertentu dari Presiden Prabowo?

Gus Kikin kembali menegaskan tidak ada komunikasi khusus.

“Nggak ada bisik-bisikan,” jawabnya.

Meski demikian, ketika ditanya apakah dirinya merasa mendapat endorsement dari Presiden Prabowo, Gus Kikin memberikan jawaban yang cukup diplomatis.

“Ya mungkin. Tapi ya saya nggak bisa membaca sejauh itu,” ujarnya.

Gus Kikin mengaku tidak mudah membaca maksud atau perasaan seorang presiden hanya dari sebuah momen.

“Kalau perasaan, ya mungkin ada, tapi kan untuk membacanya kan nggak mudah. Namanya perasaan seorang presiden,” katanya.

Pernyataan tersebut tentu menarik perhatian. Gus Kikin tidak menyebut adanya dukungan resmi dari Presiden Prabowo, namun juga tidak menutup kemungkinan adanya kesan dukungan. Ia memilih tidak berspekulasi lebih jauh mengenai maksud Presiden.

Pertanyaan berikutnya menyentuh persoalan yang lebih besar: bagaimana hubungan PBNU dengan negara apabila dirinya dipercaya menjadi Ketua Umum PBNU?

Gus Kikin menegaskan bahwa NU tidak seharusnya mengambil posisi berhadap-hadapan dengan negara. Menurutnya, NU memiliki peran sebagai kekuatan masyarakat sipil yang bersama-sama membangun bangsa.

“NU itu tidak bisa berlawanan, berurusan dengan negara. NU itu memang membangun masyarakat, menjadi civil society,” jelasnya.

Karena itu, menurut Gus Kikin, kerja sama antara NU dan negara tetap diperlukan untuk menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.

“Dan itu kemudian kemaslahatannya itu ya memang harus kita bersama-sama dengan negara untuk membangun bangsa,” lanjutnya.

Tak berhenti di situ, awak media juga menanyakan isu yang berkembang bahwa kontestasi Muktamar ke-35 NU berpotensi mengerucut menjadi pertarungan head-to-head antara Gus Yahya dan Gus Kikin.

Apakah Gus Kikin sudah siap bertarung apabila skenario tersebut benar-benar terjadi?

Jawabannya justru di luar dugaan.

“Saya sih nggak merasa bertarung,” kata Gus Kikin.

“Mana aja. Nggak usah terlalu serius, santai aja.”

Pernyataan itu sekaligus memperlihatkan bagaimana Gus Kikin memandang kontestasi kepemimpinan NU. Ia tidak ingin proses pemilihan diposisikan sebagai pertarungan antarpribadi, apalagi menjadi konflik di antara sesama kader NU.

Muktamar, baginya, merupakan bagian dari mekanisme organisasi yang harus dijalani dengan tenang.

Sikap santai Gus Kikin tersebut menjadi kontras dengan panasnya perbincangan publik mengenai bursa calon Ketua Umum PBNU. Berbagai nama bermunculan, paket-paket dukungan beredar, sementara setiap pernyataan dan gerak para kandidat menjadi perhatian muktamirin maupun publik.

Namun, sampai pada tahap ini, siapa yang akan memperoleh mandat memimpin PBNU masih menjadi teka-teki.

Nama boleh muncul, paket boleh beredar, dukungan boleh diperbincangkan. Tetapi keputusan akhir tetap berada dalam mekanisme Muktamar ke-35 NU.

Dan satu hal yang menarik dari pernyataan Gus Kikin sore itu: ketika banyak pihak membaca kontestasi ini sebagai pertarungan besar, ia justru memilih tersenyum dan mengatakan, “Nggak usah terlalu serius, santai aja.”

Mungkinkah sikap santai itu justru menjadi kekuatan Gus Kikin dalam menghadapi dinamika Muktamar ke-35 NU?

Jawabannya akan ditentukan oleh perjalanan muktamar dan pilihan para muktamirin.

(eros)

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Gus Kikin Buka Suara soal “Paket” Ketum PBNU, Nama Prabowo hingga Isu Head-to-Head dengan Gus Yahya

Terkini