Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com – Panen raya ubi jalar selama ini kerap menjadi dilema bagi petani. Saat produksi melimpah, harga ubi jalar segar justru cenderung turun sehingga keuntungan yang diperoleh petani belum optimal.
Kondisi tersebut mendorong dosen Politeknik Negeri Jember (Polije) menghadirkan inovasi pengolahan ubi jalar melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Panti, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember, Sabtu (3/10/2026).
Mengusung tema “Pemberdayaan Masyarakat Melalui Inovasi Produk dan Ekonomi Sirkular Ubi Jalar sebagai Upaya Peningkatan Kemandirian Ekonomi pada Kelompok Tani di Desa Panti Jember”, kegiatan ini menyasar ibu-ibu kelompok tani dan pelaku usaha kue di Desa Panti.
Desa Panti sendiri memiliki potensi besar dalam komoditas ubi jalar. Pada 2024, produktivitas ubi jalar tercatat mencapai 19.037 kuintal per hektare. Namun, sebagian besar hasil panen masih dijual dalam bentuk segar dengan nilai ekonomi yang relatif rendah, terutama ketika memasuki musim panen raya.
Melalui kegiatan tersebut, masyarakat dikenalkan pada konsep pengolahan dan ekonomi sirkular, dengan mengubah ubi jalar menjadi tepung sebagai bahan baku berbagai produk pangan. Inovasi ini diharapkan dapat memperpanjang nilai guna hasil pertanian sekaligus membuka peluang usaha baru bagi keluarga petani.
Kegiatan diawali dengan pemberian materi mengenai potensi ubi jalar, pengolahan dan pemanfaatannya. Peserta kemudian diajak praktik secara langsung, mulai dari mengupas ubi, memotong menggunakan alat, menjemur hingga benar-benar kering, kemudian mengolahnya menjadi tepung.
Tidak berhenti pada proses pembuatan tepung, para peserta juga langsung mempraktikkan pemanfaatan tepung ubi jalar untuk membuat kue bolu.
Praktik tersebut menjadi pengalaman baru bagi kelompok tani di Desa Panti. Sebelumnya, belum pernah dilakukan pelatihan maupun inovasi pengolahan produk berbasis ubi jalar bagi kelompok tani setempat.
Panen Raya Tak Lagi Sekadar Jual Ubi
Kepala Dusun Panti, M Hidayat, menyambut baik kegiatan pelatihan tersebut. Menurutnya, persoalan yang selama ini dihadapi masyarakat adalah melimpahnya ubi jalar ketika panen raya, sementara pemanfaatannya masih terbatas.
“Selama ini ibu-ibu kebingungan ketika panen raya tiba karena ubi jalar melimpah. Dengan adanya pelatihan ini, kami mendapatkan pengetahuan baru untuk mengolah ubi jalar agar memiliki nilai tambah,” ujarnya.
Ia menambahkan, di Desa Panti juga terdapat ibu-ibu tani yang telah memiliki usaha pembuatan kue. Karena itu, inovasi tepung ubi jalar dinilai dapat menjadi alternatif bahan baku sekaligus menambah variasi produk yang mereka jual.
“Harapannya, setelah pelatihan ini ibu-ibu bisa mengembangkan produk kue dengan bahan tepung ubi jalar, sehingga keberagaman produk bertambah dan nilai jualnya juga meningkat,” katanya.
Menurutnya, pengolahan hasil pertanian menjadi produk bernilai tambah tidak hanya bermanfaat bagi keluarga petani, tetapi juga berpotensi menggerakkan perekonomian masyarakat desa.
“Kami berharap kegiatan seperti ini bisa terus dikembangkan sehingga mampu menggerakkan ekonomi Desa Panti,” tambahnya.
Kegiatan pengabdian masyarakat tersebut dilaksanakan di rumah Kepala Dusun M Hidayat dan diikuti oleh ibu-ibu kelompok tani serta pelaku usaha kue Desa Panti.
Tim pelaksana dari Politeknik Negeri Jember terdiri dari Ratih Putri Damayati, S.Gz., M.Si., Dietisien; Ayu Febriyatna, S.ST., M.Gizi; Firda Agustin, S.Si., M.Si.; M. Rizal Permadi, S.Gz., M.Gizi., Dietisien; serta Ir. Heri Warsito, M.P.
Melalui pelatihan tersebut, ubi jalar tidak lagi dipandang sebatas hasil panen yang harus segera dijual. Dengan sentuhan pengetahuan, keterampilan dan inovasi, komoditas lokal tersebut dapat diolah menjadi bahan pangan baru yang memiliki nilai tambah sekaligus membuka peluang kemandirian ekonomi bagi keluarga petani. (eros)


