"Selamat Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia Ke 72.", "Selamat Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia Ke 72.","Selamat Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia Ke 72."
Custom Search

Rabu, 05 April 2017

Orang Jember Ini Sukses Jual Produk Lokal Via Online

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Setelah sekian tahun Khairul Anam menekuni bisnis menjual kerajinan lokal melalui online ke toko daring, melalui situs eBaynya, kini pria berumur 40 tahun beromset rata-rata Rp 35 juta perbulan.

Pasalnya produk Lokal yang Ia jual kini menembus hingga ke 35 negara di dunia. Awalnya ayah dua anak ini menekuni bisnis handicraft online, lantaran habis jatuh dari bisnis tanaman hias. Sejak 2013 lalu, ia mencoba belajar internet di salah satu warnet di sekitar Jalan Sumatera.

Pria asal Dusun Krajan, Desa Rowotamtu, Kecamatan Rambipuji ini, mencoba masuk ke situs daring di luar negeri dan ingin menghasilkan dollar. Ia lantas menemukan situs eBay, dan mencoba mendaftarkan barang dagangannya ke laman jual online tersebut.

“Awalnya, saya berjualan biji-bijian dan rempah-rempah. Salah satu yang dijual adalah biji pohon matoa asal Papua. Yang setiap 5 biji, Ia jual dengan harga US$ 20. Alhamdulilah laku dibeli orang Spanyol. saya senang bisa mendapatkan uang dollar,” kata Khairul Anam, mengawali kisah suksesnya.

Sukses di lapak pertama, Ia jual biji rambutan. Tiap 10 biji, seharga US$ 5, dibeli orang Perancis. Kemudian, jual jahe merah, kunyit dan kunci. biji jeruk kingkit, yang per 15 biji laku US$ 15. “Alangkah terkejutnya saya! Ternyata yang jual jeruk kingkit di situs eBay sedunia hanya saya,” sebutnya.

Biji jeruk kingkitnya, beredar ke 15 Negara Eropa dan Amerika. Mulai USA, Rusia, Spanyol, Perancis, Inggris dan Negara lainya. Setelah lima bulan, limit Anam ditambah eBay. Ia pun menjual biji anturium gelombang cinta, biji anturium hokery, serta biji salak. “Pokoknya yang tidak mengeluarkan modal,” ucapnya.

Namun, berbisnis biji-bijian dengan tujuan luar negeri, lama kelamaan ada kendala pengiriman, tiba di tujuan bisa mencapai satu bulan. Sehingga banyak pembeli yang mengaku biji tersebut rusak. “Dari situ saya berfikir keras, untuk menjual barang yang tidak mudah busuk,” tuturnya.

Anam, lantas menjual kerajinan tangan. “Di eBay banyak orang China menjual egelwood, aloeswood, agarwood, dan itu saya tidak mengerti seperti apa jenis barangnya,” ceritanya, sebelum Ia menjajal peruntungan dengan menjual kerajinan tangan atau handycraft.

Kelemahannya, penjual China itu mematok harganya mahal. “Dari itu saya terus mengagli ilmu apakah kayu tersebut? Alhamdulilah tidak sengaja saya jalan-jalan ke Tutul Balung, dan menemukan item tersebut berupa gelang dan tasbih yang ternyata terbuat dari kayu gaharu,” paparnya.

Meski sebenarnya, Ia tidak tahu kalau kayu gaharu itu disebut egelwood, agarwood dan aloeswood. “Saya membeli dua gelang ukuran 20mm kayu. Dari dua gelang itu saya posting di eBay, ternyata yang jual gaharu pertama kali di Indonesia hanya saya,” ucapnya, bangga.

Di situs eBay, Anam, membanding produknya dengan nama gaharu crocodile asal Kalimantan yang pernah ia jual sebelumnya, ternyata sama. Ia menjualnya dengan sistem lelang dan dibuka dengan harga US$ 50 untuk setiap gelang. Sementara harga beli dari pengrajin, hanya seharga Rp75 ribu per satu gelang.

Ia kembali mendapat kejutan, setelah diposting lima menit, banyak pembeli yang menawar dagangannya. Para calon pembeli itu berasal dari berbagai Negara. Ia membuka lelang dengan batas tiga hari sejak diposting. Dan alangkah terkejutnya, gelang tersebut tembus US$150 per item, atau berkisar Rp1.600.000 per biji.

“Dari satu gelang itu saya punya modal. Pembeli yang pertama kali beli orang Australia. Maka mulailah saya membeli beberapa gelang dan saya jual di eBay, dengan tetap menjual gelang crocodile atau gaharu buaya tersebut,” ujarnya.

Dalam satu bulan, Khairul Anam mengaku, bisa mendapatkan sekitar US$ 1.000 yang berkisaran Rp12 juta. Dengan hasil itu, Ia lantas mebeli komputer dan memasang internet di rumahnya. Khairul Anam mengaku semakin tenang dan konsentrasi dalam bisnis tersebut.

Setahun membuka lapak, pada 2014, Ia sudah dapat label top rated seller, yang artinya penjual yang bonafit. Label itu menunjukkan jika Anam adalah penjual terpercaya. Setelah itu mendapat predikat itu, banyak pembeli dari Asia, yakni Singapura, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, China dan Brunai Darussalam.

Kisah sukses Khairul Anam terus berlanjut, Ia mendapat bahan berupa fosil gaharu buaya. Kala itu, barang tersebut seberat 1.5 Kg. Ajaibnya, paska dibuka lelang dengan harga US$ 100, tembus sampai US$ 700 atau kisaran Rp9 juta. Barang itu, dibeli oleh orang dari Kuwait, di Timur Tengah.

“Dari uang itu akhirnya saya bisa membeli kamera besar. Semakin bagus gambar saya, karena dalam jualan online foto berperan penting. Dan saya menjual bahan baku dari gaharu buaya. Sangat fantastik, 1 Kg bahan gaharu buaya seharga Rp75 rib, bisa laku kisaran Rp 4 juta – Rp 6 juta,” tuturnya.

Lapaknya, mencapai batas maksimal. Karena omsetnya per bulan tembus US$ 3.000 atau kisaran Rp 40 juta. Akhirnya, Ia bekerjasama dengan Kantor Pos.  “Waktu itu saya di tunjuk sebagai kordinator. Untuk Kantor Pos tiap pengiriman mendapatkan diskon hinnga 15 persen. Dan itu yang pertama terjadi di Jember,” akunya.

Setelah itu, orang Indonesia mulai menjual gaharu di situs eBay. Tapi tidak membuat omsetnya menurun. Ia juga mulai berbagi dengan teman-temannya di Jember untuk jualan online gaharu di eBay. Waktu itu, ada sekitar 6 seller di Jember yang jual gaharu di eBay.

Namun, berjalannya waktu, ada pembeli dari Guangdong China dan Singapura yang datang. Permintaan ini yang menjadi PR baginya, karena Ia belum mengetahui dimana tempat gaharu asli tersebut. Hingga suatu ketika, Khairul Anam bertemu dengan seseorang bernama Amang, yang akrab disapa Pak Yek.

Dari Pak Yek inilah, Anam mendapat pengetahuan. Ia kemudian bisa membedakan yang asli, atau disebut agarwood aquilaria, dan yang bukan. Ia lantas mencoba menawarkan kayu agarwood aquilaria dari Sulawesi itu, ke pembeli adal Singapura, dengan menunjukan foto. Dengan berat 1,8 Kg, Ia mematok harga Rp75 juta

“Saya menawarkan ke pembeli asal Singapura yang datang kerumah saya. Saya tak menyangka, kayu dari Bang Amang itu ditawar Rp 150 juta. Saya kaget, karena tidak pernah memegang uang sebanyak itu, apalagi dalam bentuk dolar,” ucapnya.

Bahkan suatu ketika, ada salah satu Jenderal dari Amerika yang menjadi pelangannya. Jenderal itu membeli kayu gaharu buaya. Dan sejumlah toko di Malaysia yang menjadi pelanggan tetapnya.  Saat ini Ia juga mulai menekuni kerajinan kayu gaharu, sehingga barang yang dijual  produk sendiri. (eros)

Berita Terkait Ekonomi Bisnis

Tidak ada komentar: