"Selamat kepada 14 Partai Politik Nasional dan 4 Partai Politik Lokal Aceh yang lolos menjadi peserta Pemlihan Umum Tahun Tahun 2019"

Saturday, 23 November 2019

Lailatul Qodriyah Jelaskan Tugas DPRD pada Konstituen

Lailatul Qodriyah saat berbicara di depan konstituennya, kredit foto: Fahmi/MG
Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, Lailatul Qodriyah menjelaskan tugas anggota dewan kepada konstituennya saat Serap Aspirasi (Reses) di Pondok Pesantren Darul Hikmah, Desa Glundengan, Jember, Jum'at malam 22 November 2019.

 Lalilatul Qodriyah menjelaskan, tugas anggota dewan diantaranya melakukan pengawasan terhadap kinerja pemerintah. "Saya ini ada 20 mitra kerja atau dinas yang diawasi," ujar Neng Laila, sapaan akrabnya.

Neng Laila berkata, dewan itu setiap empat bulan sekali secara khusus turun ke masyarakat sebab fungsinya dewan sendiri diantaranya pengawasan terhadap kerja pemerintah.

Dalam hal penganggaran, Neng Laila mencontohkan, apabila salah satu dinas kebutuhan pegawainya 3000 maka untuk honornya dalam satu tahun, dewan mengkalkulasinya sesuai dengan kebutuhan supaya tidak terjadi penyimpangan.

"Semisal anggaran provinsi 33 triliun, nantinya itu dibagi ke masing-masing dinas, sebab dinas membutuhkan anggaran, mulai dari anggaran untuk pendidikan, kesehatan, pertanian dan lain sebagainya. Apabila anggaran dinas telah dibahas, akan dibawa ke Badan Anggaran (Banggar). Setelah itu, rapat paripurna bersama Gubernur Jawa Timur," jelasnya.

Neng Laila dalam kesempatan tersebut juga menyinggung lahirnya UU Pesantren yang telah lama diperjuangkan oleh anggota dewan dari PKB. Kata dia, banyaknya pesantren yang notabene didirikan oleh kalangan nahdliyin menjadi pertimbangan UU Pesantren harus menjadi prioritas.

Apalagi, lanjut Neng Laila, agar peran serta santri untuk berkhidmad pada bangsa dan negara diakui oleh pemerintah. Dan santri bisa lebih bermanfaat dibanyak tempat.

Sebelumnya, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Hikmah, Kyai Baidarus dalam sambutannya mengatakan bahwa
sebenarnya Neng Laila memiliki sejumlah agenda. Namun, demi bertemu dengan muslimat Desa Glundengan semua agenda dia tunda lebih dulu.

Selanjutnya, Kyai Baidarus mengungkapkan kegelisahannya dengan adanya asumsi kyai tidak boleh berpolitik. Padahal, kyai itu politiknya kebangsaan. Bahkan, kyai Hasyim As'ari disowani Sukarno karena semata-mata politik kebangsaan.

"Kyai Ma'ruf Amin maju sebagai Wakil Presiden karena politik kebangsaan. Apalagi, sekarang ini gerakan politik trans nasional sudah masuk ke partai politik dan mereka mudah menghujat kegiatan tahlil, bila tidak ada tokoh agama yang berpolitik maka hancur semua," tuturnya.

Kyai Baidarus menjelaskan bahwa dirinya tidak berpolitik. Namun, Kyai Baidarus menegaskan akan berjuang bersama NU termasuk mendorong Neng Laila untuk mengakomodir kepentingan warga Nahdlatul Ulama. (RF).

Berita Terkait Pemerintahan

No comments: