Jombang, MAJALAH-GEMPUR.Com - Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) memasuki fase paling krusial. Setelah proses pemilihan dan tabulasi suara rampung, sembilan ulama sepuh resmi ditetapkan sebagai anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).
Penetapan tersebut tertuang dalam Keputusan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama Nomor 05-A/Muktamar-35-08/2026 tentang Pemilihan dan Penetapan Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).
Sidang Pleno V Muktamar ke-35 NU di Jombang dipimpin oleh Ketua PWNU Sumatera Barat, Ganefri. Berdasarkan hasil tabulasi yang ditetapkan, sembilan kiai dengan perolehan suara tertinggi resmi mendapat mandat menjadi anggota AHWA.
Muktamar ke-35 NU sendiri digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27 hingga 31 Agustus 2026.
Dari Ploso hingga Cirebon, dari Aceh hingga Jawa Barat, sembilan ulama tersebut kini memegang mandat besar dalam menentukan arah kepemimpinan Nahdlatul Ulama untuk masa khidmah 2026–2031.
Berikut 9 Anggota AHWA Berdasarkan Urutan Perolehan Suara Terbaru:
1. KH Nurul Huda Jazuli — 486 Suara
KH Nurul Huda Jazuli merupakan salah satu ulama sepuh dari lingkungan Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri.
Kiai yang dikenal kuat menjaga tradisi keilmuan pesantren ini menjadi peraih suara tertinggi dalam pemilihan anggota AHWA dengan 486 suara.
2. TGK KH Nuruzzahri Yahya — 478 Suara
Posisi kedua ditempati TGK KH Nuruzzahri Yahya, ulama kharismatik asal Aceh yang dikenal luas di kalangan masyarakat dan dunia dayah.
Dengan 478 suara, ulama yang memiliki pengaruh kuat di Aceh ini menjadi salah satu tokoh yang dipercaya masuk dalam forum sembilan kiai AHWA.
3. Dr. KH Baharuddin HS — 392 Suara
Dr. KH Baharuddin HS berada di urutan ketiga dengan perolehan 392 suara.
Masuknya namanya dalam jajaran AHWA menunjukkan besarnya kepercayaan peserta Muktamar kepada sosok ulama yang memiliki rekam jejak dalam dunia keagamaan dan jam'iyah.
4. KH Miftachul Achyar — 351 Suara
Ulama kharismatik asal Surabaya, KH Miftachul Achyar, menempati posisi keempat dengan 351 suara.
Kiai Miftachul Achyar dikenal memiliki perjalanan panjang dalam kepemimpinan Nahdlatul Ulama dan dunia pesantren. Pengalamannya dalam berbagai posisi strategis NU menjadikan namanya salah satu figur penting dalam jajaran ulama nasional.
5. KH Afifuddin Muhajir — 340 Suara
Di urutan kelima terdapat KH Afifuddin Muhajir dengan perolehan 340 suara.
Ulama dari lingkungan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo, ini dikenal sebagai salah satu ahli fikih dan ushul fikih yang memiliki pengaruh kuat dalam pemikiran keislaman di lingkungan Nahdlatul Ulama.
6. KH Anwar Iskandar — 327 Suara
KH Anwar Iskandar menempati posisi keenam dengan 327 suara.
Ulama asal Kediri ini memiliki perjalanan panjang dalam dunia pesantren dan organisasi Nahdlatul Ulama. Sosoknya dikenal sebagai salah satu kiai senior yang memiliki pengalaman luas dalam kehidupan keagamaan dan kebangsaan.
7. KH Anwar Mansur — 304 Suara
Posisi ketujuh ditempati KH Anwar Mansur dengan perolehan 304 suara.
Kiai Anwar Mansur dikenal sebagai salah satu tokoh sepuh dari lingkungan pesantren Kediri dan memiliki peran besar dalam menjaga keberlangsungan tradisi pendidikan Islam berbasis pesantren.
8. Dr. KH Abun Bunyamin — 297 Suara
Di posisi kedelapan terdapat Dr. KH Abun Bunyamin dengan perolehan 297 suara.
Ulama asal Jawa Barat ini dikenal memiliki kiprah kuat dalam dunia pendidikan pesantren dan organisasi Nahdlatul Ulama. Kehadirannya memperkuat representasi ulama Jawa Barat dalam forum AHWA.
9. Prof. KH Said Aqil Siroj — 273 Suara
Nama terakhir yang melengkapi sembilan anggota AHWA adalah Prof. KH Said Aqil Siroj, dengan perolehan 273 suara.
Tokoh asal Cirebon ini dikenal luas sebagai ulama, cendekiawan, dan salah satu figur penting dalam perjalanan Nahdlatul Ulama di tingkat nasional.
Dengan hasil penetapan terbaru tersebut, KH Said Aqil Siroj resmi berada di urutan nomor 9 dalam jajaran anggota AHWA Muktamar ke-35 NU.
Mandat Utama AHWA: Menentukan Rais Aam hingga Kepemimpinan PBNU
Terpilihnya sembilan anggota AHWA bukan akhir dari proses. Justru, fase paling menentukan kini dimulai.
Sembilan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) bermusyawarah untuk menentukan Rais Aam dan jajaran kepemimpinan Syuriyah serta Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2026–2031.
Sembilan kiai sepuh yang terpilih melalui hasil tabulasi suara Muktamar ke-35 NU tersebut memegang mandat besar untuk melakukan musyawarah dalam forum khusus.
Forum musyawarah tersebut bertujuan menentukan sosok ulama yang akan menduduki posisi Rais Aam PBNU, sebagai pemimpin tertinggi dalam jajaran Syuriyah Nahdlatul Ulama.
Berdasarkan tata tertib Muktamar, apabila proses musyawarah mufakat dalam tahapan pemilihan tidak menghasilkan keputusan secara langsung, mekanisme penentuan kepemimpinan berikutnya akan mengikuti ketentuan yang berlaku dalam forum Muktamar, termasuk mekanisme yang melibatkan anggota AHWA.
Dengan kata lain, sembilan kiai ini kini menjadi pusat perhatian jutaan warga Nahdliyin.
Musyawarah Digelar di Ndalem Kasepuhan Mbah Wahab
Musyawarah tertutup para anggota AHWA dilangsungkan di Ndalem Kasepuhan KH Abdul Wahab Chasbullah, di Kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang.
Lokasi tersebut memiliki makna historis yang sangat kuat bagi perjalanan Nahdlatul Ulama.
Bukan sekadar tempat berlangsungnya Muktamar ke-35 NU, Tambakberas merupakan salah satu ruang penting dalam sejarah kelahiran dan perjalanan jam'iyah Nahdlatul Ulama.
KH Abdul Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab dikenal sebagai salah satu tokoh utama pendiri NU bersama KH Hasyim Asy'ari dan para ulama Nusantara lainnya yang turut merintis lahirnya organisasi terbesar umat Islam Indonesia tersebut.
Tambakberas dan Jejak Sejarah Komite Hijaz
Pelaksanaan Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas juga memiliki nilai historis tersendiri.
Mbah Wahab dikenal memiliki peran penting dalam perjuangan Komite Hijaz, sebuah gerakan ulama Nusantara yang memperjuangkan kebebasan umat Islam dalam menjalankan tradisi keagamaannya di Tanah Suci.
Perjuangan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama.
Dalam perjalanan sejarah NU, para ulama Nusantara juga mendapatkan inspirasi dan mandat spiritual dari KH Kholil Bangkalan. Pesan penting tersebut dikenal dalam sejarah melalui peran KH As'ad Syamsul Arifin yang menjadi penghubung antara para ulama.
Kini, seratus tahun setelah perjalanan panjang sejarah tersebut, Tambakberas kembali menjadi saksi lahirnya momentum penting bagi Nahdlatul Ulama.
Di tempat yang memiliki jejak kuat Mbah Wahab dan sejarah perjuangan NU itulah, sembilan kiai sepuh kini duduk bersama dalam musyawarah menentukan masa depan kepemimpinan organisasi.
Tabulasi telah selesai. Sembilan nama telah ditetapkan. Kini, sembilan ulama memegang amanah besar menentukan arah kepemimpinan PBNU untuk lima tahun mendatang.
Di tengah berlangsungnya musyawarah tertutup sembilan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) untuk menentukan Rais Aam dan jajaran Syuriyah PBNU, arena Muktamar ke-35 NU juga mulai memasuki tahapan penting lainnya.
Proses pemilihan calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2026–2031 mulai berjalan.
Sementara sembilan kiai sepuh AHWA bermusyawarah di Ndalem Kasepuhan KH Abdul Wahab Chasbullah, Kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, sidang Muktamar di arena utama mulai melakukan proses penjaringan nama untuk posisi Ketua Umum PBNU.
Dalam proses tersebut, setiap Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) dan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) memiliki hak untuk menentukan pilihan.
Masing-masing peserta memilih lima nama yang dinilai layak menjadi calon Ketua Umum PBNU.
Seluruh suara tersebut kemudian akan ditabulasi untuk menentukan lima nama dengan perolehan suara tertinggi.
Lima nama teratas itulah yang selanjutnya akan diserahkan kepada jajaran Rais Syuriyah atau forum AHWA untuk menjalani mekanisme pemilihan berikutnya sesuai tata tertib Muktamar.
(eros)


