"Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017"
Custom Search

Saturday, 2 December 2017

Pemdes Di Jember Manfaatkan DD Untuk Paving dan Jembatan

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Pemdes Pecoro salah satu dari delapan desa di Kecamatan Rambipuji, Jember, yang merasakan manfaad dari DD,  kali ini dimanfaatkan untuk infrastruktur desa, proyek Paving dan Jembatan.

Penggunaan  anggaran Dana Desa yang diperoleh sebesar Rp. 856.147.139 salah satunya digunakan untuk pembangunan jalan paving dan jembatan di Dusun Kandangan yang menghubungkan akses pertanian dan pemukiman warga ini dimaksudkan untuk meningkatkan taraf ekonomi masyarakat.

Menurut Kepala Desa (Kades) Pecoro, bahwa sesuai dengan  amanat Permendes No. 4 Tahun 2016 Tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa Tahun 2017 (perubahan atas Permendes No. 22 Tahun 2016), anggaran itu digunakan untuk infrastruktur desa, dan pemberdayaan masyarakat.

“Dari anggaran itu digunakan di 12 titik lokasi, untuk bidang pemberdayaan masyarakat sebesar Rp. 28.600.000, termasuk di dalamnya penyertaan modal untuk pendirian Badan Usha Milik Desa (BUMDesa)," Jelas  Kepala desa Pecoro, Musthofa, saat ditemui di Kantornya, Sabtu (2/12/2017).

Untuk Jembatan sepanjang 30 m dan lebar 1,70 m menghabiskan anggaran Rp. 176.000 000. “Pembangunan tersebut dibangun atas inisiasi serta partisipasi masyarakat yang dituangkan dalam dokumen perencanaan desa (RPJMDes, RKP, dan APBdes) melalui musyawarah desa," imbuhnya.

Jembatan penyeberangan tidak sampai 2 meter yang sebelumnya beralaskan gedek ini, hasil swadaya dan gotong-royong masyarakat, ini hanya dapat dilalui pejalan kaki. Bersepeda pun harus hati-hati karena tak ada jerjak pengaman pada tiap tepi jembatan yang mencapai ketinggian 3 meter dari permukaan sungai,". Lanjutnya.

Tidak jauh dari jembatan itu, sekitar kurang lebih 100 meter ke arah barat terdapat perumahan warga. Oleh karena itu, jalan dan jembatan tersebut tidak hanya digunakan sebagai akses lahan pertanian melainkan juga sebagai akses masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Apabila masyarakat ingin membangun rumah, mereka harus memanggul atau membawa bahan material melewati jalan setapak hingga sampai ke pemukiman. Atau apabila sudah musim panen tiba, mereka juga harus memanggul atau membawanya hingga ke tepi jalan yang dapat dilalui oleh kendaraan roda empat. Begitu seterusnya.

Kini, masyarakat tak perlu lagi memanggul hasil panennya ratusan meter untuk dapat diangkut untuk bisa dijual ke pasar. Mereka sudah dapat menggunaan transportasi roda empat semacam pick up dan kendaraan lainnya hingga sampai ke pemukiman warga. Tegasnya. (eros/mam)

Berita Terkait Politik dan Hukum

No comments: