"Selamat kepada 14 Partai Politik Nasional dan 4 Partai Politik Lokal Aceh yang lolos menjadi peserta Pemlihan Umum Tahun Tahun 2019"

Thursday, 4 October 2018

Ketua IPW Prihatin Meningkatnya Angka Kematian Suporter Sepakbola Indonesia

Banyuwangi, MAJALAH-GEMPUR.Com. Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) menyatakan prihatin melihat melonjaknya angka kematian suporter sepakbola di negeri ini.

Dimana kenaikannya hampir mencapai 100 persen di tahun 2018. “Dalam catatan, di tahun 2017 hanya ada 9 suporter yang tewas dan di tahun 2018 melonjak menjadi 17 suporter”. Demikian keluh Ketua Presidium IPW Neta S Pane dalam rilis yang diterima redaksi media ini, Kamis (4/10/2018).

Jika Liga 1 hendak digulirkan akhir minggu ini, katanya, harus ada jaminan dari Polri bahwa aparaturnya mampu bekerja profesional dalam menjaga dan mengamankan pertandingan sepakbola. Jika tidak ada jaminan dari Polri, sepakbola akan tidak terkendali dan akan menjadi ajang pembantaian anak manusia.

 Sebab apa yang terjadi di Bandung pada bulan lalu, dimana suporter Persija tewas dikeroyok suporter Persib adalah gambaran kelengahan dan kecerobohan polisi. Aksi pengeroyokan lanjut Pani, terjadi di sekitar stadion dan sebelumnya disebut sebut ada sekelompok orang yang melakukan swepping.

Pani mempertanyakan, Lalu kenapa Polrestabes Bandung sebagai penanggungjawab keamanan tidak mengantisipasinya? Kemana polisi saat pengeroyokan terjadi di sekitar stadion. Akibat peristiwa ini Liga 1 dihentikan sementara.

Untuk itu cara kerja kepolisian dalam mengamankan pertandingan sepakbola selama ini perlu dievaluasi. Sebab sejak tiga tahun terakhir angka kematian suporter terus meningkat, baik di dalam stadion maupun di sekitar stadion maupun di luar stadion.

"Tahun 2016 misalnya ada 6 suporter tewas, 5 dikeroyok dan 1 kecelakaan lalulintas. Tahun 2017 naik, ada 9 tewas, yang 6 di antaranya dikeroyok, dua jatuh di stadion dan 1 kecelakaan lalin. Tahun 2018 melonjak, 17 suporter tewas yang 6 di antaranya dikeroyok dan 9 kecelakaan lalin dan 2 lainnya jatuh di stadion," bebernya.

Melihat data data ini, semakin nyata pertandingan sepakbola akan jadi mesin pembunuh. Terutama jika jajaran Polri tidak bekerja profesional. "Dengan terlibatnya Polri melalui PS Bhayangkara dalam Liga 1, seharusnya even sepakbola bisa lebih aman.

Untuk itu, jika belum ada jaminan dari Polri, sebaiknya even Liga 1 jangan digelar dulu. Bagaimana pun jajaran kepolisian tidak bisa menyalahkan panitia jika terjadi masalah keamanan, karena tanggungjawab keamanan menjadi wewenang kepolisian.

"Jika situasinya memang masih tidak memungkinkan, kepolisian punya wewenang untuk menunda atau memindahkan pertandingan tersebut agar tidak menambah jatuh korban tewas dalam setiap pertandingan sepakbola di Indonesia," pungkasnya. (*)

Berita Terkait Olahraga

No comments: