"Selamat kepada 14 Partai Politik Nasional dan 4 Partai Politik Lokal Aceh yang lolos menjadi peserta Pemlihan Umum Tahun Tahun 2019"

Saturday, 21 September 2019

AJI dan Google Latih Jurnalis Jember Tangkal Informasi Hoax

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. AJI kota Jember, bersama Internews dan Google News Initiative melatih puluhan pekerja dari berbagai platform media menangkal informasi palsu atau hoaks.

Selama dua hari, Sabtu-Minggu (21-22/9), dua pelatih, trainer dari AJI bersertifikat Google yaitu Anang Zakariya dan Bina Karos akan menyampaikan berbagai problem dan tantangan media kekinian, khususnya media daring, yang rentan terkontaminasi oleh informasi hoaks.

Sehari sebelumnya Aliansi Jurnalis Independen (AJI) ini juga menggelar seminar soal isu yang sama di Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh fenomena banyak dan cepatnya penyebaran informasi di era digital, terutama melalui media sosial.

Agar tidak tegang, Kegiatan bagi jurnalis, pengelola media, pers mahasiswa, dan pengelola media daring berbasis komunitas dari berbagai kabupaten di wilayah kerja AJI Jember, Jember, Bondowoso, Lumajang, Bondowoso, Situbondo, dan Banyuwangi ini, dikemas dengan cara menyenangkan.

“Dalam Trainer, dijelaskan apa saja peranti pendeteksinya, agar para jurnalis bisa menjadi agen penangkal hoaks,” kata Plt Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Jember, Mahrus Sholih, diselah-selah pelatihan Google News Initiative Training Network di Hotel Meotel, Sabtu (21/9/2019)

Menurutnya, penyebaran hoaks itu beragam tujuannya, mulai yang bermanfaat dan dibutuhkan oleh publik, hingga, disinformasi, atau kabar bohong. “Bisa berupa teks, foto hingga video, ada yang sekedar lelucon, tapi ada juga yang mengandung kepentingan politik atau ekonomi.”, jelasnya.

Yang merisaukan, lanjut Mahrus, hoaks menyebar sangat cepat di sosial media. Bahkan, tak sedikit publik yang mempercayainya. “Bukan hanya publik yang mempercayai dan menyebarluaskan informasi palsu tersebut. Terkadang media pun turut mendistribusikannya,” ucapnya.

Keterlibatannya itu, entah sekadar ingin menyampaikan, atau sengaja, bisa juga karena kurangnya pemahaman. “Pelatihan ini bertujuan agar para jurnalis menjadi agen penangkal hoaks. Sehingga mereka menjadi bagian dari pekerja media yang terlibat mengedukasi publik,” tuturnya.

Menurut Bina Karos, dalam kegiatan ini, para jurnalis dibekali materi agar dapat melakukan verifikasi sendiri terhadap informasi berupa tulisan, Foto dan vedio yang beredar di dunia digital atau media darling apakah itu masuk Misinformasi atau disinformasi.

“Untuk memferivikasi berita yang keliru (hoax), membongkar apa informasi itu asli atau palsu dan bagaimana cara mengeceknya, ada tool yang disediakan oleh google atau pihak lain dan itu ada yang gratis dan juga ada yang berbayar,” jelasnya.

Hal senada disampaikan Anang Zakariya, pemakai internet Indonesia, sudah 64 persen atau sekitar 171 juta, baik di kota dan desa, bahkan berkembang sangat cepat hingga 10 persen, sementara pertumbuhan penduduk hanya 0.6 persen yaitu dari 264.161.600, 27.916.716.

Minimnya minat baca, penyebab mudahnya penyebaran hoax. Kegiatan ini diharapkan menghasilkan jurnalis berkualitas, dan mengangkat tingkat literasi masyarakat. “Sejak pelatihan digelar, 3 ribuan jurnalis terlibat, secara nasional, ini yang kali ketiga. Pertama 2017 lalu, pungkasnya. (eros).

Berita Terkait Pendidikan

No comments: