"Majalah Gempur Online kini hadir di Aplikasi Play store atau Google play. Untuk berlangganan berita-berita terbaru kami, silahkan download Aplikasi ini: https://play.google.com/store/apps/details?id=org.mysel.majalahgempur"

Tuesday, 7 April 2020

Warga Jember Menggelar Aksi Protes ke Tambak Udang

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Puluhan warga Jember Selasa (7/4/2020) siang gelar aksi protes ke lokasi tambak udang PT Anugerah Tanjung Gumukmas (ATG) dikawasan pantai wisata Tanjungsari.

Warga Dusun Jeni Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas ini mengaku keberatan atas pelebaran area tambak yang menutup  akses jalan menuju ke lahan pertanianya. Sehingga Warga untuk masuk ke sawah itu sekarang tidak bisa," kata salah satu warga peserta aksi Tumari.

Sejak  jalan ditutup, jika hendak ke lahan untuk bercocok tanam atau merumput, harus melewati jalan alternatif, memutar menyusuri sungai dan pantai yang lumayan jauh.  “Sebelumnya hanya ber jarak 500 meter, namun sekarang bisa 2 kilo meter lebih," lanjutnya.

Infrastruktur Instalasi Pengelolahan Air Limbah (IPAL) diduga tidak difungsikan. Karena saat panen udang, limbah mencemari sungai  dan banyak kan mati, airnya gatal di kulit. “Ini kan mengganggu kesehatan, bahkan pernah juga hewan ternak kerbau mati usai minum air sungai," keluhnya.

Untuk itu mereka berharap agar pihak tambak merespon protes warga.Dia juga menilai, keberadaan tambak selama 3 tahun tidak membawa manfaat bagi warga. "Pokoknya jangan sampai merugikan warga lingkungan sini, utamanya pembuangan limbah harus dijaga," pungkasnya.

Hal itu dibenarkan Kepala Desa Kepanjen H. Saiful Mahmud mengatakan, menurutnya bahwa protes ini karena  warga resah.  "Setiap panen udang, limbah yang dibuang itu diduga mengandung racun dan dikhawatirkan habitat yang ada di sungai akan mati," ujarnya.

Akibat pelebaran jalan itu, akses jalan menuju ke lahan pertanian kini terputus. Mahmud juga menyebut, keberadaan tambak PT ATG yang luasnya kurang lebih 25 hektar ini, lokasi berdirinya persis diatas bibir sungai dan hal tersebut menurutnya melanggar aturan.

"Padahal diaturan kalau usaha tambak berdiri dipinggir sungai, jika ada tanggulnya jaraknya 5 meter dari tanggul. Sebaliknya jika tidak ada tanggulnya, jaraknya kurang lebih harus 25 atau 27 meter dari bibir sungai, lha ini PT ATG berdiri persis  diatas sungai," sebutnya.

Bahkan dirinya sudah berkali-kali mengadu kepihak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) maupun Dinas Lingkungan Hidup , namun belum ada respon. "Saya sudah 3 kali ini mengadu kepada pihak terkait seperti DLH maupun Pemkab, tapi gak pernah ada tanggapan dan tindakan nyata," katanya.

Bahkan beberapa bulan lalu, dirinya diundang di hotel Dafam Jember bersama PT ATG dan pihak-pihak terkait.  "Saya waktu itu protes bahwa warga keberatan, karena  merugikan masyarakat dan melanggar aturan terutama dampak  lingkungan dan kesehatan," tuturnya.

Namun, dirinya mengaku tidak berputus asa dan berharap  pihak terkait mempertimbangkan kembali perijinannya. Jika ijin tetap dikeluarkan agar  prosedur harus dilalui.  "Mohon pemerintah yang berwenang,  untuk menegakkan peraturan," harapnya.

Pihak tambak, Imam menganggap, sebenarnya tidak ada permasalahan dengan warga.Pihak tambak terbuka, dan pihaknya bersedia melakukan mediasi dengan warga untuk mencari jalan terbaik.


Imam mengakui, jika sebelumnya memang sudah ada tuntutan warga terkait permasalahan penutupan jalan untuk akses menuju ke lahan pertanian warga.  "Kita sudah ngasih dan di ACC sama manager 1 meter hingga 1,5 meter, namun masyarakat menuntut  3 meter," katanya.

Mengenai pencemaran lingkungan, Ia membantah, tidak ada limbah yang mencemari sungai.  "Kalau di tambak lama kan ada pengolahan limbahnya, untuk pengolahan limbah IPALnya sudah ada. Saya ndak perlu ngomong sampean lihat, IPAL itu prosesnya gimana," bantahnya.(rir/eros).

Berita Terkait Ekonomi Bisnis

No comments: