"Majalah Gempur Online kini hadir di Aplikasi Play store atau Google play. Untuk berlangganan berita-berita terbaru kami, silahkan download Aplikasi ini: https://play.google.com/store/apps/details?id=org.mysel.majalahgempur"

Tuesday, 14 July 2020

Secangkir Kopi Jawa, Secangkir Kenikmatan Penuh Cerita

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Bicara tentang kopi, seakan tak pernah ada habisnya, terutama mereka para penggemar dan penggila kopi itu sendiri, terlebih jika membahas kopi Jawa.

Lantas apa yang menarik dari kopi Jawa itu?  Kopi Jawa (Java coffee) adalah kopi yang berasal dari Pulau Jawa di Indonesia. Kopi ini sangatlah terkenal sehingga nama Jawa menjadi nama identitas sejak dahulu kala sejak jaman kolonial.

Sejarah kopi di Indonesia dimulai tahun 1696, saat Belanda membawa kopi dari daerah Malabar, India, ke pulau Jawa. Awalnya mereka membudidayakan di Kedawung, sebuah perkebunan dekat Batavia. Namun upaya ini gagal kerena tanaman itu rusak oleh gempa bumi dan banjir.

Upaya kedua dilakukan tahun 1699 dari stek pohon kopi Malabar. Pada 1706 sampel kopi yang dihasilkan dari Jawa ini dikirim ke negeri Belanda untuk diteliti di Kebun Raya Amsterdam. Hasilnya sukses besar, karena kopi yang dihasilkan memiliki kualitas sangat baik.

Selanjutnya tanaman kopi ini dijadikan bibit bagi seluruh perkebunan yang dikembangkan di Indonesia. Sontak Belanda pun memperluas areal budidaya kopi ke Sumatera, Sulawesi, Bali, Timor dan pulau-pulau lainnya di Indonesia.

Kopi Jawa ini tidak memiliki bentuk yang sama dengan kopi asal Sumatra dan Sulawesi, cita rasa juga tidak terlalu kaya, karena sebagian besar kopi Jawa diproses secara basah (wet process, kalian bisa wisata ke pabrik pengolahan kopi yang banyak tersebar di Jember, hampir semua, peninggalan Belanda dan konsisten menggunakan olah basah sebagai standar olahan biji kopi, pen).

Meskipun begitu, sebagian kopi Jawa mengeluarkan aroma tipis rempah sehingga membuatnya lebih baik dari jenis kopi lainnya. Kopi Jawa memiliki keasaman yang rendah dikombinasikan dengan kondisi tanah, suhu udara, cuaca, serta kelembaban udara.

Kopi Jawa yang paling terkenal dahulu adalah Jampit dan Blawan. Biji kopi Jawa yang tua (disebut old-brown) berbentuk besar, dan rendah kadar asam. Ada satu kesempatan kami mencicipi kopi yang mirip dengan kopi Abyssinia dengan karakter biji besar dan lonjong dengan belahan tengah berbentuk S yang kentara.

Di Bondowoso, kopi biji besar itu, disebut sebagai kopi kuno. Kopi itu sangking tuanya selain pohonnya besar dia juga membutuhkan banyak waktu untuk mematangkan buah. Kopi Maragogype (biasa dia disebut, kopi VOC di Bondowoso) sampai butuh waktu 2 tahun untuk siap panen.

Kopi Jawa ini dengan rasa kuat, pekat, rasa kopi yang manis. Produksi Kopi Jawa untuk Arabika kala itu dipusatkan di tengah Pegunungan Ijen, tepatnya di kawah Wurung Bondowoso, di bagian ujung timur Pulau Jawa, dengan ketinggian pegunungan 1400 meter. Kopi ini dibudidayakan pertama kali oleh kolonial Belanda pada abad 18 pada perkebunan skala besar.

Menurut Belanda dan Eropa saat itu, mutu dan cita rasa kopi Jawa itu melampaui kopi yang pernah mereka ketahui di masa itu. Akhirnya dunia mengakui cita rasa yang mantap dan aromanya yang khas menjadi daya tarik Kopi Jawa. Memang saat masa kolonial perdagangan kopi dari nusantara ke pasar Eropa sangat memang menguntungkan.

Pada tahun 1878 terjadi tragedi memilukan. Hampir seluruh perkebunan kopi di Indonesia terutama di dataran rendah rusak terserang penyakit karat daun atau Hemileia vastatrix (HV). Kala itu semua tanaman kopi yang ada di Indonesia merupakan jenis Arabika (Coffea arabica). Untuk menanggulanginya, Belanda mendatangkan spesies kopi liberika (Coffea liberica) yang diperkirakan lebih tahan terhadap penyakit karat daun.

Sampai beberapa tahun lamanya, kopi liberika menggantikan kopi arabika di perkebunan dataran rendah. Di pasar Eropa kopi liberika saat itu dihargai sama dengan arabika. Namun rupanya tanaman kopi liberika juga mengalami hal yang sama, rusak terserang karat daun.

Kemudian pada tahun 1907 Belanda mendatangkan spesies lain yakni kopi robusta (Coffea canephora). Usaha kali ini berhasil, hingga saat ini perkebunan-perkebunan kopi robusta yang ada di dataran rendah bisa bertahan.

Seiring berjalannya waktu, istilah a Cup of Java muncul di dunia barat, hal ini mengesankan kopi Indonesia identik dengan Kopi Jawa, meskipun masih terdapat kopi nikmat lainnya seperti kopi Sumatra dan kopi Sulawesi.

Kopi yang ditanam di Jawa Tengah pada umumnya adalah kopi Arabika. Salah satu kopi Jawa yang ada di Jawa Tengah berasal dari Tawangmangu. Dimana kopi yang ada type S line atau asli peninggalan Belanda.

Kopi Jawa yang dikembangkan diperkirakan ada sejak Tawangmangu dipilih oleh orang-orang Belanda yang memilih lereng lawu sebagai tempat untuk mukim sekaligus mengembangkan usaha perkebunan teh dan kopi.

Di Jawa Timur, Kayu Mas, Blawan, dan Jampit pada umumnya, kopi arabika. Di daerah pegunungan dari Jember hingga Banyuwangi terdapat banyak perkebunan kopi Arabika dan Robusta. Jember sendiri sudah dikenal dunia sebagai daerah penghasil kopi Jawa yang berkualitas dan nikmat.

Produksi kopi Jawa dari jenis Kopi arabika yang terkenal di dunia telah membuat banyak pengusaha Jawa sukses berdagang kopi. Harga kopi arabika yang banyak diproduksi di Jawa lebih mahal daripada kopi robusta.

Bahkan banyak negara di dunia terutama Amerika dan Eropa menyebut kopi yang kuat dan enak itu adalah identik secangkir Jawa. Pasca kemerdekaan Indonesia tahun 1945, seluruh perkebunan kopi Belanda di Indonesia di nasionalisasi. Sejak itu Belanda tidak lagi menjadi pemasok kopi dunia.

Saat ini ada 4 penghasil kopi utama yang dikenal yaitu PTPN (BUMN), Perusahaan Daerah Perkebunan Kabupaten, Perusahaan Swasta (HGU), serta kopi rakyat (banyak memanfaatkan lahan produksi perhutani atau hak milik dengan luasan kurang dari 5 ha per petani kopi).

Hal terpenting adalah #tetapngopi dan menikmati cerita seru dibalik secangkir kopi yang kalian minum. (RKJ)

Berita Terkait Pertanian

1 comment:

Unknown said...

GEMPUR ONLINE waktunya membuat kajian rutin bersama pegiat desa untuk membahas banyak fakta.

Tentunya tetap tersaji dalan NGOPINTAR