"Majalah Gempur Online kini hadir di Aplikasi Play store atau Google play. Untuk berlangganan berita-berita terbaru kami, silahkan download Aplikasi ini: https://play.google.com/store/apps/details?id=org.mysel.majalahgempur"

Thursday, 20 August 2020

KH M Umar, Pejuang Kemerdekaan Dari Jember Yang Terlupakan

Jember, MAJALAH-GEMPR.Com. Sambut malam tahun baru Islam 1442 Hijriyah, ribuan santri, alumni dan Para kiai bersama Wabup Jember, Drs. KH A Muqit Arief, Rabu (19/8/2020) malam ikuti napak tilas perjuangan KH. M. Umar bin Ikrom.

Para peserta melakukan perjalanan dengan jarak tempuh sekitar 10 km dengan rute di mulai dari Pondok Pesantren (Ponpes) Raudlatul Ulum Sumberwringin Kecamatan Sukowono menuju  Mojogemi, Sukowiryo, dan terakhir di Desa Sukojember.

Menurut Wakil Bupati (Wabup) Jember Drs. KH. A. Muqit Arief, bahwa KH M Umar turut berjuang untuk melawan penjajah. Beliau pun pernah mengungsi ke Mojogemi, di rumah almarhum Kiai Bukhori, ketika hampir terperangkap oleh penjajah.

“Napak tilas sangat penting bagi santri agar kenal dengan perjuangan yang telah dilakukan oleh para pendahulu. “Para pendahulu melakukan perjuangan yang sangat luar biasa dalam merebut kemerdekaan,” ujar KH. A. Muqit saat memberikan sabutan pemberangkatan peserta.

Kemerdekaan Indonesia tak lepas dari peran para ulama. Bahkan beliau wafat di tahun 1980-an, yang berarti juga ikut mengisi kemerdekaan. Menurutnya, saat ini perjuangan ini masih belum selesai, dan harus dilanjutkan oleh para santri.

“Para santri harus melanjutkan perjuangan almarhum KH  M Umar. Dengan melanjutkan perjuangan para para ulama, lebih-lebih sebagai penjuang, diharapkan keberadaan santri akan menjadi orang yang bermanfaat ketika kembali ke masyarakat” jelasnya saat memberikan pemberangkatan.

Pesan Wabup, kepada para santri yang menimba ilm u di salah-satu pondok pesantren besar di Kabupaten Jember ini, bersungguh-sungguh mencari ilmu hingga pendidikan tertinggi. “Semakin tinggi pendidikan, semakin mungkin dapat bermanfaat di daerahnya,” tutur wabup..

Informasi media ini bahwa, memang Nama Kiai Umar bin Ikrom saat ini tidak begitu populer, namun pada zamannya, Ayahanda Kiai Khotib Umar ini tidak asing di telinga para warga NU, khususnya Jawa Timur, kiai yang satu ini terkenal sebagai pejuang dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU) yang sangat tangguh dalam melawan penjajah.

Kiai Umar atau Abd Mushowwir, lahir di Desa Suko, Jelbuk. Putra sulung 4 bersaudara pasangan Kiai Ahmad Ikram dan Nyai Aminah tahun 1904 M ini, usai belajar ke pesantren Banyuanyar, Pamekasan, Madura, Sidoharjo, Banyuwangi, Jember dan lainnya diminta meminmpin Pesantren Raudlatul Ulum.

Diantara teman sepondok saat itu diantaranya KH. As’ad Syamsul Arifin (Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo), KH. Zaini Mun’im (Pesantren Nurul Jadid, Probolinggo) dan KH. Junaidi Asmuni (Pesantren Bustanul Makmur, Genteng, Banyuwangi).

Ketika Kiai Umar itu pulang, serdadu Belanda tengah giat-giatnya menancapkan kuku kekuasaannya. Tak urung, Raudlatul Ulum pun jadi markas perjuangan di bawah komandonya, Selain santri, ada sektiar 250 pejuang bermarkas di pesantrennya, bahkan Kiai Umar pernah ditahan Belanda.

Saat Jepang berkuasa, Kiai Umar juga menjadi bidikan serdadu Jepang. Itu karena ia berani menolak melakukan Saikere. Sebuah gerakan dengan membungkukkan badan 90 derajat selama beberapa detik untuk menghormati raja Jepang, Tenno Heika. (eros).

Berita Terkait Pemerintahan

No comments: