Selamat Hari Jadi Jember ke 96

https://draft.blogger.com/blog/page/edit/1360945809311009771/7858131956542366929

Translate

Iklan

Menenun Literasi dan Seni dari Akar Komunitas, Refleksi Budaya dan Harapan untuk Pesisir Selatan

Majalah Gempur
28 Agustus 2025, Kamis, Agustus 28, 2025 WIB Last Updated 2025-08-28T14:41:01Z


Jember,
MAJALAH-GEMPUR.Com. Di tengah hantaman arus globalisasi dan homogenisasi budaya, 4 komunitas di Jember  menawarkan seutas narasi tandingan yang kuat, bahwa kebudayaan tumbuh paling subur ketika dirawat dari akar lokal, melalui kolaborasi lintas generasi dan lintas sektor.

Dalam rentang waktu yang padat dan penuh makna, mulai bulan September sd Oktober 2025, 4 komunitas dari  Rimba Watukebo, Srawung Sastra, Langgar Kawruh Aksari, dan THB.  membangun ekosistem literasi dan seni berbasis lokalitas yang tak hanya hidup, tetapi juga menghidupi.

Kegiatan sebagai Medium Pemajuan Kebudayaan

Program ini bukan sekadar rangkaian acara. Ia adalah proses pemajuan kebudayaan yang konkret, partisipatif, dan berkelanjutan. Dengan pendekatan tematik—kearifan lokal, ekologi, spiritualitas desa, dan budaya pesisir—setiap kegiatan menjadi ruang belajar bersama, ruang ekspresi, dan ruang dokumentasi nilai-nilai budaya yang sering kali terpinggirkan.

Format kegiatan yang beragam—workshop, ekspedisi, kemah literasi, pameran, pertunjukan, dan sarasehan—menjadi wahana untuk mengintegrasikan seni, edukasi, dan dokumentasi. Anak-anak belajar mendongeng dari neneknya, guru belajar literasi digital dari fasilitator muda, dan seniman menggali mitos desa untuk pertunjukan wayang. Inilah bentuk nyata dari pemajuan kebudayaan yang inklusif dan kontekstual.

Inter Relasi Komunitas untuk Menyusun Harmoni dalam Ruang Kolektif

Salah satu capaian paling penting dari program ini adalah terbentuknya inter relasi yang setara antar komunitas seni, budaya, dan literasi. Alih-alih beroperasi secara terpisah, komunitas-komunitas ini saling mengisi, saling belajar, dan saling memperbincangkan isu-isu strategis dalam ruang kolektif yang bebas, nyaman, dan inklusif.

Ruang-ruang diskusi dan sarasehan tidak hanya menjadi forum intelektual, tetapi juga ruang afektif—tempat di mana pengalaman lokal, keresahan bersama, dan gagasan masa depan dibicarakan tanpa hierarki. Setiap komunitas berposisi setara: baik yang berbasis desa, urban, spiritual, maupun literasi digital. Inilah wujud nyata dari demokratisasi budaya, di mana semua suara memiliki tempat dan makna.

Selarik Harapan untuk Pesisir Selatan

Dari proses panjang ini, tumbuh benih-benih harapan yang menyebar ke berbagai penjuru pesisir selatan. Bukan hanya dalam bentuk karya atau dokumentasi, tetapi dalam cara komunitas saling merawat, saling menguatkan, dan membayangkan masa depan bersama. Ada semangat baru dalam mendongeng, dalam membaca lanskap desa sebagai teks budaya, dan dalam menjadikan ruang publik sebagai tempat belajar yang hidup.

Jejak program ini tidak berhenti di arsip atau laporan, tetapi terus bergerak melalui jejaring relawan, pojok baca, dan inisiatif warga yang tumbuh secara organik. Di antara suara anak-anak yang membaca puisi dan langkah seniman yang menata panggung, tersimpan komitmen kolektif untuk menjaga keberlanjutan budaya yang berpihak pada lokalitas dan keberdayaan. Dalam 2 bulan mendatang, September - Oktober 2025, mereka semua akan merayakan kenangan dan cerita lokal yang dibalut dengan kesenian dan pola pemajuan kebudayaan ala komunitas di pesisir selatan Jember.

Ini adalah empat simpul utama kegiatan yang menjadi tulang punggung gerakan ini:

THB – Springcode

Tamasya Halaman Belakang atau THB, begitu mereka dikenal, menjadi laboratorium literasi digital dan dokumentasi kreatif, program ini mempertemukan fasilitator muda dan pegiat seni budaya muda dalam eksplorasi videografi sastra, desain zine, dan kampanye narasi lokal berbasis media sosial.

Rimba Watukebo – Kedai 2025

Mengangkat tema ekologi dan spiritualitas desa, Kedai 2025 menghadirkan ekspedisi budaya, pertunjukan mitos lokal, dan pameran arsip desa sebagai ruang pertemuan antara warga, tokoh adat, dan seniman.

Srawung Sastra – Kenduri Sastra Tepi Benua

Di wilayah pesisir, forum sastra terbuka ini menjadi ruang refleksi dan ekspresi bersama melalui penulisan cerita, musikalisasi puisi, dan pertunjukan monolog yang menyuarakan identitas budaya maritim. (*)

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Menenun Literasi dan Seni dari Akar Komunitas, Refleksi Budaya dan Harapan untuk Pesisir Selatan

Terkini

Close x