
Tim PMR SMP Negeri 3 Jember bersama perwakilan Palang Merah Jepang Nodoka Arai di stan simulasi pertolongan pertama pada gelaran SPAB Youth Fest 2026.
Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com – Kesadaran bahwa Indonesia berada di kawasan rawan bencana tak lagi cukup dijawab dengan teori di ruang kelas. SMP Negeri 3 Jember memilih langkah progresif dengan menggelar SPAB Youth Fest 2026 sebagai upaya membangun budaya siaga bencana sejak usia dini.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Palang Merah Jepang dan Palang Merah Indonesia (PMI). Kerja sama tersebut dilandasi kesamaan karakter geografis kedua negara yang sama-sama rawan gempa dan bencana alam lainnya. Pertukaran pengalaman serta praktik baik dinilai menjadi fondasi penting dalam memperkuat mitigasi berbasis komunitas, termasuk di lingkungan sekolah.
SPAB Youth Fest tidak hanya menghadirkan materi teoritis, tetapi juga simulasi dan latihan tanggap darurat. Para siswa mengikuti drill evakuasi serta praktik penyelamatan diri. Pendekatan ini dipilih agar peserta didik terbiasa menghadapi situasi darurat tanpa panik serta memahami prosedur keselamatan secara sistematis.
Perwakilan Palang Merah Jepang, Nodoka Arai, menyampaikan bahwa kesamaan tantangan kebencanaan membuka ruang pembelajaran bersama. Jepang dengan pengalaman panjang menghadapi gempa dan tsunami berbagi sistem kesiapsiagaan yang terstruktur. Sebaliknya, Indonesia memiliki kekuatan solidaritas komunitas yang menjadi modal penting dalam membangun ketangguhan sosial.
Sementara itu, perwakilan PMI Jember, Yana, menilai pendekatan edukasi yang dikemas melalui kompetisi mampu menumbuhkan karakter kepemimpinan siswa. Menurutnya, kesiapsiagaan bencana bukan hanya soal kemampuan teknis, tetapi juga ketepatan mengambil keputusan dalam situasi krisis.
“Harapannya, peserta didik tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga tangguh dan bijak mengambil keputusan saat menyangkut keselamatan bersama,” harapnya.
Ditempat yang sama, Kepala SMP Negeri 3 Jember, Heru, menjelaskan Program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) telah berjalan sekitar delapan bulan. Sekolah telah melewati sejumlah tahapan, mulai dari edukasi, simulasi, hingga pembiasaan prosedur keselamatan.
“Melalui simulasi, peserta didik dilatih agar tidak panik saat situasi darurat dan memahami langkah-langkah penyelamatan diri,” ujarnya.
.
Tahap lanjutan program ini adalah pembentukan Duta SPAB. Para duta diproyeksikan menjadi pionir budaya aman bencana di sekolah. Mereka tidak sekadar simbol, melainkan motor penggerak mitigasi dan mengampanyekan prosedur keselamatan, membantu proses evakuasi, hingga menenangkan teman saat kondisi darurat terjadi.
"Proses seleksi dilakukan bertahap dan ketat. Sejumlah siswa mengikuti pelatihan serta workshop di PMI dan BPBD, disertai pendampingan lanjutan di sekolah. Dari tahapan tersebut, terpilih 10 besar kandidat yang akan disaring pada puncak SPAB Youth Fest 2026 untuk ditetapkan sebagai Duta SPAB resmi," ungkap Heru.
Langkah ini menegaskan bahwa pendidikan kebencanaan bukan lagi pelengkap, melainkan bagian integral pembentukan karakter. Di tengah kompleksitas risiko bencana yang terus meningkat, SMP Negeri 3 Jember mengirim pesan tegas: kesiapsiagaan bukan sekadar pengetahuan, melainkan budaya yang harus ditanamkan sejak dini. (Wahyu/Eros)

