Selamat Hari Jadi Jember ke 96

https://draft.blogger.com/blog/page/edit/1360945809311009771/7858131956542366929

Translate

Iklan

Produk Kopi Gapoktan di Jember ini Tembus Pasar Eropa

Majalah Gempur
Sabtu, 16 Mei 2026, 20.46 WIB Last Updated 2026-05-16T18:29:24Z


Jember, MAJALAH-GEMPUR . Com - Aroma kopi khas lereng Gunung Argopuro menyedot perhatian pengunjung dalam pameran UMKM se-Jawa Timur di Alun-alun Kabupaten Jember, Sabtu (16/5/2026). Melalui stan miliknya, Gapoktan Subur Desa Darsono, Kecamatan Arjasa, memperkenalkan berbagai produk kopi unggulan mulai dari bibit hingga kopi siap seduh.

Ketua Gapoktan Subur, Totok Purwanto, mengatakan sengaja menampilkan seluruh proses produksi kopi sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat sekaligus mempromosikan produk lokal petani lereng Gunung Argopuro. “Bidang produk kami mulai dari benih atau bibit kopi, green bean, roast bean, hingga bubuk kopi,” ujarnya saat ditemui di lokasi pameran.


Dalam pameran tersebut, Gapoktan Subur menampilkan berbagai jenis kopi unggulan, mulai dari Arabika, Robusta, Excelsa atau kopi nangka, hingga Liberika. Selain produk kopi, pengunjung juga diperkenalkan dengan produk UMKM lainnya berupa Tape Pohong Kuning Cipta Rasa hasil olahan kelompok tani setempat.


Produk kopi yang dipamerkan meliputi benih kopi, buah kopi segar petik merah (cherry), green bean atau biji kopi kering, roast bean hasil sangrai, hingga bubuk kopi siap seduh.


Selain fokus pada produksi, Gapoktan Subur juga mengembangkan sektor pemasaran melalui kafe bernama “PD Coffee”. Kafe tersebut menjadi sarana promosi kopi lokal sekaligus tempat edukasi bagi masyarakat mengenai kopi khas asal Jember.


Totok mengungkapkan, kopi hasil produksi petani binaannya kini telah berhasil menembus pasar internasional melalui kerja sama dengan pihak ketiga. “Alhamdulillah kopi kami sudah dikirim ke Eropa. Nilai scoring kopi kami sudah 84 lebih. Itu sudah masuk speciality coffee dan ke depan ingin terus kami tingkatkan kualitasnya,” katanya.


Meski usaha produksi kopi secara intensif baru berjalan sekitar dua tahun terakhir, pendampingan terhadap petani sebenarnya telah dilakukan lebih dari satu dekade. Pendampingan tersebut mencakup penggunaan bibit unggul, teknik penanaman, hingga perawatan tanaman kopi.


Salah satu fokus utama pendampingan adalah edukasi panen petik merah. Menurut Totok, metode tersebut mampu meningkatkan kualitas sekaligus nilai jual kopi dibandingkan panen campuran.

“Kami mendorong petani untuk memanen petik merah karena harganya jelas lebih bagus,” ujarnya.



Ia berharap pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap pengembangan kopi rakyat di Jember, terutama bantuan alat pascapanen seperti husker, pulper, mesin roasting, dan grinder guna mendukung produksi skala rumah tangga.


“Petani kopi di Jember masih banyak yang membutuhkan perhatian, terutama untuk pengembangan produksi skala industri rumah tangga,” katanya.


Totok juga ingin memperkuat identitas kopi asal Darsono dan kawasan timur lereng Gunung Argopuro agar memiliki branding khas yang mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional. “Mulai dari Celana sampai Jelbuk itu karakter tanah dan lerengnya hampir sama. Insyaallah kualitas kopinya juga bagus,” tuturnya.


Menurutnya, tantangan terbesar yang masih dihadapi kelompok petani kopi saat ini adalah keterbatasan modal untuk pengembangan alat dan pengolahan pascapanen. “Permodalan memang merupakan tantangan klasik, namun kami tidak menyerah untuk terus mengembangkan kualitas kopi petani,” tutupnya.


Sementara itu, Mohammad Sifak Amin dari Politeknik Negeri Jember menjelaskan, kopi Arabika yang dikembangkan petani ditanam pada ketinggian 800 hingga 1.500 meter di atas permukaan laut (mdpl). “Sedangkan untuk kopi Robusta dibudidayakan di wilayah berketinggian 400 hingga 800 mdpl,” terang Sifak.


Menurutnya, pengolahan kopi yang dilakukan petani terdiri atas metode pengolahan kering dan basah. Pada pengolahan kering, petani menerapkan metode alami dan madu. Sementara pada pengolahan basah menggunakan metode full wash dan semi wash, termasuk fermentasi wine untuk menghasilkan karakter rasa yang khas.


“Saat ini luas lahan kopi milik petani binaan Gapoktan Subur mencapai sekitar 200 hektar. Sekitar 70 hektar berada di Desa Darsono, sedangkan sisanya tersebar di sejumlah wilayah lereng Gunung Argopuro seperti Desa Panduman, Kemuning Lor, Desa Kamal, hingga kawasan perhutanan sosial,” jelasnya.


Diketahui, Gapoktan Subur juga mendapat dukungan dari 13 mahasiswa magang asal Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan yang turut mempelajari proses budidaya hingga pengolahan kopi di Kabupaten Jember. (Wayu/Eros)

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Produk Kopi Gapoktan di Jember ini Tembus Pasar Eropa

Terkini

Close x