"Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017"
Custom Search

Saturday, October 24, 2015

Kampanyekan Situs ‘Candi Deres’ Peninggalan Majapahit

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Sekelompok orang tampak duduk di kawasan Candi Deres, Desa Purwo Asri Kecamatan Gumukmas, Mereka terlihat serius mendiskusikan bagaimana cara mengenalkan situs peninggalan Majapahit.

Hasilnya, mereka menyepakati akan menyelenggarakan Eksibisi Candi Deres (Candi Deres Exibition) dengan meggunakan dana patungan. Sisanya anggaran kegiatan itu akan dimintakan ke Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Jember.

“Rencananya kami akan menyelenggarakan Candi Deres Exibition, ahir Nopember nanti. Targetnya, adalah siswa mulai Sekolah Dasar hingga Menengah Atas di Kecamatan Gumukmas,” kata Yohanes Setio Hadi, salah seorang pegiat sejarah dari Taman Baca Budaya (TBB) Salam. Sabtu (24/10).

Kegiatan itu merupakan kampanye pelestarian Candi Deres yang mengikutsertakan generasi muda. Selain siswa, sejumlah tokoh masyarakat dan tokoh pendidikan juga akan diundang untuk lebih mengenalkan situs candi deres yang kondisinya mulai memprihatinkan.

“Kami berharap, dapat memberikan edukasi, sekaligus mengajak mereka berperan menjaga dan merawat Candi Deres. Sebab sampai saat ini, keterlibatan masyarakat serta generasi muda dalam merawat dan melestarikan situs cagar budaya masih minim,” ujar Zainulloh Ahmad, pegiat sejarah dari Komunitas Sapta Prabu.

Menurut Zaenul, merawat dan melestarikan Candi Deres sangat penting, karena candi itu merupakan satu-satunya situs cagar budaya yang berbentuk candi di Jember. Selain itu, juga salah satu candi dari 27 candi Negara jaman kerajaan majapahit saat di pimpin oleh Hayam Wuruk.

“Dalam kitab Negara Kertagama, Candi Deres merupakan 1 dari 27 candi yang diakui Negara saat Kerajaan Majapahit. Secara eksplisit hal itu dicatat dalam pupuh (Bab) 73 kitab Negara kertagama yang disebut sebagai PagÖr (Baca:Pager),” terangnya.

Penulis buku Menelusuri Jejak Sejarah Jember Kuno ini menjelaskan, sejumlah literature lain juga mencatat keberadaan candi tersebut. Dari literature berbahasa belanda misalnya, candi itu disebut sebagai Candi Retjo. Sedangkan nama Candi Deres adalah sebutan warga local yang diambil dari nama dusun setempat.

“Berdasarkan hasil kajian beberapa literatur, candi ini dibangun sekitar abab 14, yang awalnya digunakan sebagai tempat pendarmaan atau pemakaman yang juga sebagai tempat pemujaan bagi keluarga kerajaan majapahit,” paparnya.

Setelah Majapahit Runtuh, sambung Zaenul, keberadaan Candi Deres seolah turut tenggelam. Baru pada tahun 1904, ada sebuah dokumen foto dari bangsa Belanda tentang kondisi candi tersebut. Dalam foto itu, Candi Deres tak lagi utuh, hanya tinggal separuh dari bangunan candi yang tersisa.

Karena tak terawat, bangunan candi semakin rapuh dan berangsur hancur. Baik karena factor alam maupun aksi vandalisme. Pucaknya, kata Zaenul, pada tahun 1966, isu sentiment berdasar suku, ras dan agama (Sara) begitu kuat, sehingga menyebabkan candi tersebut menjadi sasaran sejumlah orang yang tak menyukai keberadaan candi itu kemudian menghancurkannya hingga runtuh total.

Saat ini, kondisi Candi Deres tinggal puing-puing bangunan saja. Hanya batu bata sisa-sisa reruntuhan candi yang bertumpuk diatas lahan seluas 10 x 7 meter. “Dulu pada tahun 1986, pernah ada eskavasi (penggalian) oleh Badan arkeologi Nasional dari Jogjakarta.

Para peneliti menemukan sejumlah tengkorak manusia, tulang belulang binatang buas serta benda bernilai sejarah lainnya, seperti peralatan perang pada masa Majapahit,” terang, Basuki Rahmad, Petugas Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Wilayah 4 Jawa Timur di Jember.

Menurutnya, kecil kemungkinan pemerintah merekontruksi. Sebab, struktur dasarnya begitu rapuh, dikwatirkan ambruk. Minimnya referensi kondisi asli bangunan juga menjadi kendala. “Selama ini yang menjadi gambaran tentang bangunan candi hanya foto jaman belanda pada tahun 1904, itupun kondisinya tak lagi utuh. Sehingga untuk membuat repro gambarnya cukup sulit,” ujarnya.

Meski demikian, ada satu hal yang masih bias dilakukan, yakni mengenalkan nilai kesejarahan candi, merawat sekaligus melestarikan situs candi tersebut dengan melibatkan masyarakat, terutama generasi mudanya. “Saya kira yang paling mungkin dilakukan adalah mengenalkan nilai sejarah dari bangunan candi. Selain juga merawat serta melestarikan situs bersejarah tersebut,” paparnya.

Peran pemerintah Kabupaten Jember perlu didorong dalam mengembangkan candi deres. Sehingga ada wisata sejarah yang menjadi rujukan siswa dalam mempelajari sejarah peradaban Indonesia, khususnya Jember. “Bukankah  bangsa yang besar adalah bangsa yang tak melupakan sejarahnya?” pungkasnya. (ruz)

Berita Terkait Pendidikan

No comments: