Selamat Hariraya Idul Fitri 2017 "Minal Aidin Walfaizin", Mohon Maaf Lahir dan Batin."
Custom Search

Minggu, 19 Februari 2017

Mantan Napi, Bangkit Sebagai Pengrajin Kapal-kapalan

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Di gang sempit  daerah pesisir pantai selatan, letaknya di Dusun Mandaran Satu, Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger Kabupaten Jember Jawa Timur seolah jadi dermaga kecil. Tujuh kapal-kapalan pencari ikan tampak di parkir di almari kayu terbuka di ruang tamunya.

Tak puas sampai disitu, siang itu, di teras rumahnya Ahmad Rofik, (37 tahun) masih memotongi ujung stik es krim yang kemarin sore dia beli di pasar setempat. Ia menggunakan stik dari kayu pinus itu sebagai bahan baku kerajinan kapal-kapalan ciptaannya.

Setelah dipotong, stik ia panaskan menggunakan sebatang korek api. Tujuannya agar bisa meliuk mengikuti desain kapal. Baru kemudian tiap ujung stik ia rekatkan menggunakan lem kayu hingga membentuk miniatur kapal. Ukuran kapal-kapalan bikinannya berfariasi, mulai dari 20 hingga 40 cm, tergantung jenis kapalnya.

Sehari-hari, ia mengerjakan pekerjaannya dibantu oleh anak perempuannya yang berusia 10 tahun. Terkadang juga dibantu oleh keponakannya yang seusia dengan putrinya. Keduanya hanya sebatas mengaplas kapal yang selesai dirakit Rofik.

Tiap tiga minggu sekali Rofik menitipkan hasil karnyanya ke salah seorang pemilik stand kerajinan di komplek Pantai Payangan. Ia mengaku baru mendapat uang setelah laku. "Ini miniatur kapal eder, khas nelayan Puger. Cuma sekarang kapal jenis ini jarang ditemui. Soalnya tidak tahan saat terhempas angin," ujarnya.

Kapal eder merupakan kapal yang hanya ada di Puger. Bentuknya melengkung pada kedua ujungnya, serta cembung di bagian badan kapal. Selain kapal eder, Rofik juga membuat jukung-jukungan berukuran relatif kecil serta jenis kapal besar lain yang dia tak tahu persis kapal apa  namanya.

Sebelumnya, Rofik bukanlah pembuat kerajianan. Akan tetapi seorang pemilik kapal pencari ikan yang biasa mempekerjakan nelayan. “Saya mulai menjadi pengrajin kapal-kapalan sejak November 2016 kemarin, setelah resmi bebas dari lembaga pemasyarakatan Jember”. Jelasnya

Ia mesti hidup selama 3 tahun 2 bulan di ruang tahanan selepas pecah kerusuhan sektarian di Puger pada 2013 silam. Setahun awal masa tahanan ia jalani di Rutan Medaeng Surabaya. Baru kemudian dipindahkan ke Lapas Jember hingga akhir masa tahanannya.

Selama di Lapas, Rofik berkenalan dengan kerajinan kapal-kapalan yang ditekuninya. Ceritanya, warga binaan di lapas hampir tiap hari mendapat pelatihan merangkai bunga dari pelatih yang ditunjuk pihak lapas. Rofik juga sempat mencicipi kegiatan itu. Namun, pada perjalannya dia terpikir untuk membuat sesuatu yang beda.

Di sela kesendiriannya di kamar lapas Rofik merenung masuk ke dunia masa lalunya. Dia merekonstruksi pengalamannya selama bertahun-tahun sebagai nelayan. Dari situlah ide membuat kapal-kapalan muncul. Uji coba membuat kapal-kapalan pertama kali dilakukan Rofik dengan memanfaatkan kardus sisa yang ada di sekitar lapas.

Tidak ada desain yang bisa ia tiru di situ. Rofik  membuat kapal-kapalan hanya berdasar ingatan lamat-lamat. "Akhirnya ya jadi tapi jelek," kata Rofik. Salah seorang teman sekamarnya menganjurkan agar coba membuat kapal-kapalan dari bahan stik es krim. Rofik menganggap usulan itu sebagai saran yang menarik.

Saat keluarganya datang membesuk, ia berpesan agar pada kunjungan berikutnya dibawakan satu plastik stik es krim. Dari bahan stik itulah Rofik berhasil membuat kapal-kapalan yang ternyata layak jual. "Ya mungkin ada faktor bakat juga," tuturnya.

Dengan bantuan petugas lapas, tiap kapal-kapalan yang selesai ia kerjakan lantas dipajang di ruang jenguk. Tiap itu pula keluarga napi lain yang datang memborong hasil kerajinan Rofik. "Ada yang membelinya Rp. 100 ribu, ada juga yang lebih. Tergantung mereka," jelasnya penuh bangga.

Dari situ pula kemudian ia juga diminta petugas lapas untuk mengajari keterampilan serupa kepada warga binaan lain. Hingga kemudian tiga buah kapal karyanya sempat diikutkan pada acara kompetisi hasil kerajinan warga lapas tingkat nasional di Jakarta.

Adalah kabar yang membanggakan bagi Rofik saat kapal-kapalan buatannya yang diboyong ke Jakarta dinyatakan sebagai hasil kerajinan warga lapas terbaik nomor dua tingkat nasional.

Setelah menghirup udara bebas, dia berniat fokus menjadi pengrajin kapal-kapalan. Keputusan itu diambilnya setelah banyak asetnya, termasuk kapal pencari ikan yang menjadi andalannya, habis terjual selama dia dipenjara.

"Saya nggak punya apa-apa lagi. Cari ikan juga susah sekarang. Makanya keterampilan membuat kerajinan yang saya dapat dari pelatihan di Lapas ini yang bisa saya lakukan," ujarnya sambil menyerahkan kapal-kapalan yang sedari tadi selesai dirakit untuk diamplas kepada putrinya.

Hanya saja, Rofik masih mengeluhkan sulitnya mencari peluang pasar. Selain di Payangan, belum ada tempat lain yang mau mengakomodir hasil karyanya itu. Faktor modal juga jadi kendala lain.

Untuk membuat sebuah kapal eder, ia menghabiskan modal Rp. 50 ribu. Lantas ia melepasnya ke pasaran Rp. 100 ribu. Sedangkan, untuk jukung-jukungan yang ukurannya lebih kecil, Rofik menjualnya Rp. 50 ribu. "Rata-rata harga jualnya lima puluh persen dari biaya pembuatannya. Soalnya bikinnya lama dan susah," tutur Rofik.

Ia mengaku memerlukan waktu satu hari untuk menyelesaikan jukung-jukungan. Dan untuk kapal yang ukurannya lebih besar bisa selesai antara dua hingga tinga hari.

Mendengar hal tersebut, Kalapas Klas II A Jember, Tejo Harwanto menyampaikan rasa bangganya atas karya Rofik. Itulah harapannya kepada warga binaan. Dengan keterampilan yang diperoleh bisa menunjang ekonomi keluarga nya ketika sudah bebas menjalani hukuman. (edw)

Berita Terkait Industri

Tidak ada komentar: