"Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017"
Custom Search

Saturday, 23 September 2017

Menteri PPPA Naik Odong-Odong Di Festival Egrang Jember

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Tamapk raut penuh kegembiraan terpancar, saat Menteri PPPA naik odong-odong menuju panggung untuk membuka Festival Egrang VIII di Tanoker, Sabtu (23/9).

Ditemani Bupati Jember dr Hj Faida, MMR, Mentri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Prof Dr Yohana Susana Yembise, Dip, Apling, M.A, yang akrap disapa Mama Yo ini,  dengan senyum khasnya, tampak acapkali melambaikan tangannya ke kiri dan kanan.

“Halo… Hai, Haii…. Halo.  Siapa Kita .. Anak Indonesia. Anak Indonesia--Seratus Persen Cinta Indonesia”, disambut tepuk tangan bersama” Sapanya kepada anak-anak dengan nada lantang mengawali sambutannya dalam kegiatan yang digelar di halaman Polsek  Ledokombo, Jember Jawa Timur ini.

Dalam even yang diikuti  peserta dari berbagai komunitas anak dari beberapa wilayah di Indonesia yaitu,  NTT, NTB, Makassar Sulsel, Garut, Yogjakarta, alang, Madura dan Jember, Mama Yo juga, mengapresiasi segkaligus memberikan penghargaan kepada Jember sebagai inisiator menuju Kabupaten Layak Anak (KAL).

Namun meski  Jember telah berkomitmen memperhatikan hak anak, hak tumbuh kembang dan perlindungan terhadap anak menurut Yohana perlu dukungan semua fihak. “Itu butuh dukungan semua pihak, dan stakeholder. Semua harus terlibat dan gotong royong, seperti yang dilakukan oleh Tanoker ini,” ujarnya.

Sebelum menuju jalur, Festival Egrang yang menghadirkan Defile Papua ini, Yohana, menekankan semua pihak komitmen, termasuk Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember yang sudah dituangkan dalam tandatangan komitmen menuju KAL itu, mulai Kepala Desa, dunia usaha, pendidikan, kesehatan, hingga masyarakat.

“Itu tugas berat dari Bupati dan Wakil Bupati Jember untuk melaksanakannya. Karena harus dilaksanakan dengan berbagai tahapan. Semangat kebersamaan dan kegotong royongan harus dibangun mulai dari Desa, hingga Kabupaten melibatkan semua unsur masyarakat tanpa terkecuali,” ujar Menteri Yohana.

Festival yang digelar  ke  8 (Sewindu) ini dikreasikan keluarga Supomo – Cicik. Tanoker terbentuk karena keprihatinan kala itu terhadap anak yang ditinggal orangtuanya sebagai buruh migrant dalam waktu lama. Pengasuhan anak dan berbagai kasus terjadi.

Tanoker diambil dari kata Tenoker (Madura) atau Kepompong. Diharapkan benar – benar menjadi wadah anak untuk meningkatkan kreativitas, imajinasi, kecerdasan, memantapkan diri, dan wadah perlindungan anak dari berbagai tantangan di luar.

Dengan semangat, dan mengorbankan pekarangannya Supomo dan Cicik, menciptakan tempat bermain, asli permainan Indonesia kuno, yang kemudian dimodifikasi sehingga anak - anak buruh mirgran menjadi terkontrol dan terlindungi. Pendidikan juga terarah, hak anak juga ditingkatkan untuk tumbuh dan berkretifitas.

Di tahun ke delapan festival egrang ini, membuktikan bahwa dari Desa, bisa menginspirasi dan membawa icon Kabupaten sebagai Desa yang gotong royongnya sangat tinggi untuk membangun Indonesia. “Ini wujud konkret membangun Indonesia dari Desa”.(hms)

Berita Terkait Sosial Budaya

No comments: