"Selamat kepada 14 Partai Politik Nasional dan 4 Partai Politik Lokal Aceh yang lolos menjadi peserta Pemlihan Umum Tahun Tahun 2019"

Thursday, 11 October 2012

Tradisi Arung Kanal dan Ritual Balang Apem, Banyuwangi 2012

Banyuwangi, MAJALAH-GEMPUR.Com. Di ujung timur pulau Jawa dan pintu gerbang  pulau Dewata ini memiliki ribuan kegiatan ritual dan obyek wisata yang digandrungi turis lokal dan mancanegara.


Salah-satu obyek wisata tahunan di kota bekas kekuasaan Adipati Minakjinggo ini yang menarik animo masyarakat lokal maupun manca negara, adalah Balang Apem “Arung Kanal” yang sentral penyelenggaraannya berada di Desa Kebondalem, Kecamatan Bangorejo, Kabupaten Banyuwangi.

Arung Kanal berasal dari kata Arung dan Kanal. Arung mempunyai arti mengarungi/berjalan mengarungi. Sedangkan Kanal pengertiannya adalah terusan/saluran/sungai. Definisi 'Arung Kanal' berarti pelayaran mengarungi sungai.

Sebelum digelar ritual Balang Apem 'Arung Kanal', diawali dengan berbagai macam kegiatan yang melibatkan seluruh elemen masyarakat dan ribuan masyarakat. antara lain, lomba mewarnai gambar, lomba miniatur perahu hias, renag gembira, pin swiming, sarasehan petani se Kabupaten Banyuwangi, kirab drum band, pegeralaran musik dan seni tradisionil serta grebek lele (megang ikan lele dari sungai).

Secara geografis, Desa Kebondalem dikelilingi beberapa sungai besar sehingga mereka tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan sungai. Dahulu, sebelum berkembangnya kesadaran hidup sehat, warga setempat memanfaatkan sungai untuk keperluan sehari-hari. Namun kini, sungai terebut hanya dijadikan sumber pengairan sawah dan tempat bermain anak-anak.

Kondisi alam inilah yang menumbuhkan semangat bahari, dan memicu warga untuk berkreasi dengan menggelar ajang pesta perahu sejak tahun 1967, di atas aliran Pekalen Sampeyan Wilayah UPTD Eksploitasi Pengairan Bangorejo.

Awalnya, kegiatan lomba perahu ini untuk memperingati HUT RI saja. Namun proses berikutnya berkembang menjadi agenda tahunan yang melibatkan ribuan warga. Kegiatan yang sudah menjadi agenda tahunan dan menyedot kurang lebih 50 ribu penonton dari berbagai kota dan macanegara dimulai sejak tahun 1967 ini digelar mulai tanggal 4 Oktober hingga 7 Oktober 2012.

Perahu yang dipakai untuk pesta rakyat ini adalah replika (tiruan,Red) dari kapal yang sebenarnya. Warga berkreasi membuat replika perahu yang terbuat dari bambu dan batang pisang. Belasan perahu berbagai bentuk diarak di atas sungai. Ada replika kapal pinisi, kapal perang milik TNI, kapal angkutan umum hingga kapal bajak laut. “Ini pestanya masyarakat yang mencintai sungai. Kami ingin melestarikan budaya hidup bersama", Tutur Mbah Tukiran,72 sesepuh kampung Kebondalem kepada Gempur Kamis (11/10) di kediamannya..

Sejak tahun 1967 silam ia bersama Tarjo (almarhum, Red), Kadus Tanjungrejo, Suratno dan arsitek Suradi, warga Dusun Tanjungrejo RT/RW: 01/III, Desa Kebondalem, membuat replika kapal untuk lomba perahu (Arung Kanal, Red), sebagai wujud mengaplikasikan rasa terima kasihnya atas pemberian Yang Kuasa pada sungai yang mengalir di Desa Kebondalem.

Hal itu mengingat keberadaan sungai diwilayah Dusun Tanjungrejo, tersebut sangat berguna sekali untuk mengairi sawah, mandi, mencuci pakaian dan lain sebagainya. Sebagai simbolis ritual/ucapan syukur, Mbah Tukiran bersama dua orang rekannya membuat replika kapal yang perangkat dan bahannya terbuat dari drum (tong), gedebok (pohon pisang), bambu, kain, plastik dan lain sebagainya.


Ritual Balang Apem 

Yang tidak kalah pentingnya, ditengah gemuruhnya pesta rakyat 'Arung Kanal' yang sedang berlangsung, ada Ritual Balang Apem (Lempar Apem/kue, red) Arum Gondo Roso dan Apem Arum Sekar Ting-Ting. Tujuan Ritual Balang Apem yang dipimpin oleh sesepuh kampung (tetua adat,Red)  Mbah Tukiran, itu sebagai bentuk puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, yang telah memberi ketentraman dan keamanan kepada seluruh masyarakat desa Kebondalem. "Selain itu, juga sebagai simbol ritual, yang intinya minta maaf dan saling memaafkan sesama umat manusia. Kalau dalam agama Islam, Hablum Minannas," Urai Mbah Tukiran.

Ketika berlangsung prosesi ritual 'Balang Apem', yang dilakukan oleh puluhan perawan-perawan desa, ribuan masyarakat (penonton; Red) yang berjajar dan berdiri dipinggiran kanal (sungai,Red), saling berebut kue apem yang sudah di japa-japa mantra/doa oleh para tetua adat. Sugesti yang berkembang, mereka yang dapat menangkap dan memakan nikmatnya apem tersebut sama dengan mendapat berkah (ngalap berkah,Red).
 

Masuk Kalender Wisata Tahunan Dinas Pariwisata Pemkab
Tradisi Arung Kanal yang diminati oleh masyarakat lokal dan manca negara ini terus memotivasi warga untuk membuat kreasi replica perahu. Sehingga penasehat Arung Kanal yang juga Kepala Desa Kebondalem, Ikhsan, SH menyatakan, mulai tahun 1978 tradisi lomba perahu itu dijadikan ajang 2 tahunan.

Terlebih setelah agenda tahunan itu dikukuhkan dalam salah satu kegiatan dikalender wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemkab Banyuwangi. Wargapun dituntut berkreasi lebih baik, terutama membuat desain perahu yang dipamerkan. "Walaupun dalam pelaksanaan pesta rakyat Arung Kanal ini selalu menyisakan defisit anggaran, tapi kami tidak pernah patah menggelarnya,"ungkap Kades Ikhsan, yang mengaku puyeng karena pelaksaan Arung Kapal tahun ini pihak panitia induk menyisakan tanggungan pinjaman jutaan rupiah.

Sementara Camat Bangorejo, Achmad Nuril Falah, berkomitment akan mencari terobosan terkait defisit anggaran panitia induk. Mengingat dirinya selaku kepala wilayah sekaligus juga didapuk sebagai penasehat dalam kegiatan Arung Kanal tersebut. "Masih kita carikan solusi soal defisit anggaran panitia induk. Karena kekompakan dan ketekatan masyarakat kita adalah nguri-uri kebudayaan warisan leluhur yang perlu mendapat dukungan semua pihak," ujarnya.

Mahalnya Biaya Pembuatan Replika Perahu

Meski terlihat sederhana, ternyata biaya pembuatan replika perahu tersebut cukup mahal. Satu perahu bisa menghabiskan biaya Rp 7-10 juta. Perahu-perahu yang dibuat warga, bisa berukuran hingga mencapai panjang 15 meter dan lebar 4 meter. Sepintas, persis kapal yang sedang berlayar di lautan.

Dalam pembuatan sebuah perahu, warga membutuhkan waktu hingga sebulan untuk menyelesaikannya. Bahan dasar gedebok (batang pohon pisang) dirangkai dengan bambu. Batang pisang ini sebagai penyangga agar perahu bisa mengapung. Bambu dipakai sebagai rangka, lalu dibungkus dengan kain plastik dan diwarnai layaknya kapal.

Untuk memperindah, ditambahi hiasan lampu. Tenaga lampu ini didapat dari mesin diesel yang dipasang di tengah badan perahu. Pembuatan perahu tidak seluruhnya dikerjakan di atas sungai. Bahan dasarnya dibuat di daratan. Begitu selesai diangkat ke sungai, lalu diselesaikan di atas air.

Satu perahu besar biasanya dikerjakan oleh 10 hingga 15 orang. Mereka merupakan kelompok warga yang suka berkreasi. Perahu buatannya itu nantinya dilombakan selama Arung Kanal. Biayanya didapat dari iuran kelompok warga. Karena panitia induk (Desa) hanya memberikan subsidi anggaran sebesar Rp 3 juta bagi tiap kelompok sebagai stimulan. Selebihnya warga bergotong royong berswadaya.

Atraksi Kesenian Diatas perahu
Tepat pukul 21.00 WIB, perahu-perahu yang dilepas satu per satu menuju garis finish. Jaraknya sekitar 2 kilometer dan perahu terlihat indah dengan kerlap-kerlip lampu yang dipasang sebagai aksesoris diatas, dalam dan diluarnya. Perahu dibiarkan berjalan mengikuti aliran sungai. Sesuai makna perahu masing-masing, tiap awak perahu menggunakan kostum berbeda. Hampir semua perahu yang berlomba menyuguhkan musik dan menampilkan artis lokal. Ada yang menampilkan kesenian tradisional  janger, jaranan dan lain-lannya. Selama perjalanan tiap perahu menyuguhkan atraksi pesta kembang api hingga tarian para artis.

Penyelenggara Pembantu
Pergelaran Arung Kanal pada malam hari dan dimulai sekitar pukul 21.00 WIB yang tahun ini diikuti oleh 11 unit perahu menjadi tontonan menarik warga, baik turis domestic maupun lokal. Menurut konfirmasi ketua Event Organizer (EO), H. Edi Sugiyanto, yang juga ketua KPRI Bina Karya, saat ditemui dikantornya di JL. A. Yani 45 Jajag, Gambiran, disampaikan bahwa sejak sore hari, kurang dari 125 ribuan warga berjubel memadati sepanjang aliran sungai. Hingga memacetkan jalan untuk kendaraan sepanjang 2 Km.

Menurut Edi, pihaknya sebagai panitia hanya mempunyai waktu 15 hari untuk menggelar event Arung Kanal tersebut. Sehingga target optimal sebenarnya kurang begitu mengena walaupun kemeriahannya bukan main. Penuturannya kepada media ini, pendeknya waktu yang diberikan panitia induk membuat promosi, sponsor ship dan lain sebagainya tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya. "Namun dari yang disediakan sebanyak 50.000 tiket dengan HTM Rp 5.000,-per lembar, dapat terjual kurang dari separuh. Panitia mengantongi uang Rp. 100.000.000, impas dengan badget pengeluaran dana,” ujar Edi, blak-blakan.

Sedangkan menurut keterangan ketua panitia induk, Syahman Mahadi, S.Pd, kepada media ini menjelaskan reng-rengan dana yang dikeluarkan untuk menggelar Pesta Rakyat Arung Kanal Tahun 2012 tersebut mencapai Rp 355.000.000,-.

Dengan terang-terangan Syahman, mengatakan peran serta Pemkab Banyuwangi, dalam event yang berskala nasional itu kurang terlihat. Padahal Arung Kanal sudah masuk kalender kegiatan wisata Pemkab Banyuwangi. "Sudah seyogyanya Pemkab Banyuwangi, mengalokasikan dana untuk event ini. Kenyataannya, justru tidak ada kontribusi yang jelas soal dana ini. Total akhir event Pesta Rakyat Arung Kanal 2012, kami panitia masih mempunyai tanggungan pinjaman yang belum diselesaikan sebanyak Rp 27 juta," bebernya.

Masih beruntung dalam event tersebut pihak panitia induk mendapat bantuan dari donatur yang tidak mengikat. Antara lain para donatur itu, dari DPC Partai Demokrat, Michael Edy Hariyanto, SH sebanyak Rp. 15 juta, dari Anggota DPR RI F-PDIP, Achmad Basarah, Rp. 5 juta, Partai Nasdem DPD Kab Banyuwangi, H. Imam Misbah Subari, SH, M.Hum Rp. 500 ribu.

Selain itu, yang perlu mendapat apresiasi besar adalah tokoh masyarakat Desa Kebondalem, H. Moh. Yusuf alias H. Misdi, pengusaha jeruk yang dengan ikhlas guna mesukseskan even Arung Kanal 2012, memberikan bantuan dananya sebesar Rp 45 juta. (Hakim Said)

Berita Terkait Sosial Budaya

No comments: