"Selamat kepada 14 Partai Politik Nasional dan 4 Partai Politik Lokal Aceh yang lolos menjadi peserta Pemlihan Umum Tahun Tahun 2019"

Sunday, 16 December 2018

Bencana Ancam Jember Jika Hutan Lereng Argopuro Terus Ditebang

Jember, MAJALALAH-GEMPUR.Com. Peristiwa longsor Sabtu (15/12/2018) di Gunung Gambir kaki Argopuro Dusun Tampingan Desa Gelang Kecamatan Sumberbaru, Jember, Jatim disinyalir karena hutan yang gundul akibat penebangan yang dilakukan terus menerus.



Kalau penebangan hutan ini tidak segera dihentikan maka akan berdampak sangat luas khususnya warga yang tinggal di belahan barat kaki Gunung Argopuro mulai dari Kecamatan Jelbuk, patrang, Kaliwates, Panti, Sukorambi, Rambipuji, Bangsal, Tanggul dan Suberbaru, dan sekitarnya seperti Kencong dan lain-lain.

Bukan hanya ancaman banjir dan longsor saat musim penghujan, sebaliknya di musim kemarau juga akan mengalami kekeringan. Tegas anggota Tim Koordinasi Pengelolaan Sumberdaya Air (TKPSDA) Bondoyudo Baru yang membawai Wilayah kabupaten Lumajang, Jember dan Banyuwangi, Eko Sunarko Minggu (16/12/2018).

“Banjir dan longsor ini terjadi lantaran sumber mata airnya mati, karena tegakan kayu yang berfungsi sebagai resapan air habis, dampaknya saat hujan akan banjir dan krisis air saat kemarau, karenanya Pemerintah dan masyarakat harus bisa menyelamatkan hutan sebagai denyut nadi kehidupan manusia ini”, harapnya.

Boleh Perhutani dan perkebunan itu membuat kebun kopi atau tanaman lain untuk kesejahteraan warga sekitar, tetapi jangan sampai tanaman kayu keras ditebang. "Kopi itu kan tanaman tumpang sari, tetapi jangan sampai mengabaikan fungsi hutan untuk menyerap air, terutama hutan lindung”, katanya.
.
Pasalnya sumber penghidupan akan air untuk warga Jember ini sangat bergantung pada aliran sungai yang mengalir dari hulu Gunung Argopuro, karena menyuplay 37 anak sungai yang mengalir ke Kali Tanggul,  Bedadung,  Rambipuji,  Bondoyudo dan Mayang, terbanyak adalah Kali tanggul”, jelasnya.

Jika Gunung Argopuro sudah tidak bisa lagi menyediakan air dan mengalirkan ke ke sungai-sungai, maka hal ini merupakan ancaman atau bencana besar bagi warga Jember. “Disamping ancaman banjir dan longsor, juga sawah-sawah  terancam kekeringan, dan mengancam swasembada pangan”, lanjutnya.

Eko mencontohkan Dam induk (DI) karang lo Desa Tanggul wetan saat kemarau tiba, debit airnya kini sudah kuang 1 kubik,  bahkan hanya 0.5 kubik, padahal sebelumnya antara 1.5 hingga 2 kubik, apalagi sungai ini mengairi ribuan ha sawah mulai dari Tanggul sebagian Semboro, hingga Umbulsari.

Penyebabnya karena lemahnya pengawasan BKSDA, Perhutani, mudahnya izin tebang tanpa survey lapangan dan minimnya reboisasi.”Untuk itu Pemerintah harus mengambil langkah tegas untuk mengembalikan fungsi hutan, dan memberi tindakan tegas  oknum dan pihak terkait yang bermain”, pungkasnya. (eros).

Berita Terkait Lingkungan

No comments: