"Selamat kepada 14 Partai Politik Nasional dan 4 Partai Politik Lokal Aceh yang lolos menjadi peserta Pemlihan Umum Tahun Tahun 2019"

Thursday, 6 December 2018

Kecamatan Arjasa Jember Tidak Termasuk Daerah Bayi Stunting

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Meminimalisir tingginya kasus bayi stanting membuat Tim Penggerak PKK di Jember melakukan roadshow ke sejumlah wilayah diantanya di Posko Sehat Kecamatan Arjasa.

Kegiatan ini untuk memastikan kalau kasus stunting tidak ada. Kedatangan mereka disambut oleh  ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Arjasa Elilusiawati Herwan beserta Anggotanya dan ketua Bhayangkari Ranting Arjasa Faiko Eko Basuki beserta Anggotanya.

“Dari 29 ribu kasus stunting yang tersebar di 10 Desa, Kecamatan Arjasa tidak masuk dalam data pusat terkait kasus bayi stunting. Demikian kata Ketua Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kabupaten Jember, Fatonah bahwa kasus stunting di Kabupaten Jember Kamis (6/12/2018).

Meski demikian menurutnya sebelum terjadi kasus anak stunting gizi,  ada dua program yang menjadi perhatian pemkab Jember, yaitu memlalui dua program pencegahannya yang dikenal dengan 1000 hari pertama kehidupan, mulai hamil sampai anak berumur 2 tahun.

Nantinya dirinya akan melihat rumah-rumah sehat yang sudah dianggap sudah memenuhi persyaratan seperti tersedianya air bersih. "Semisal ada jamban yang sehat, pembuangan air limbah, dan tempat sampah, yang merupakan syarat minimal rumah sehat." sambungnya.

Ketua Tim Penggerak PKK Arjasa Elilusiawati Herwan menyampaikan rasa syukurnya wilayhnya  tidak masuk,  Elilusiawati  masyarakat memulai hidup sehat dan sadar dengan keluarga berencana. "Alhamdulillah di Arjasa sampai saat ini tidak ditemukan anak stunting dan semoga seterusnya," harapnya

Sementara Bhayangkari Cabang Arjasa Faiko Eko Basuki mengaku akan terus memantau bersama ibu - ibu Bhayangkari, PKK, Persid."Kita mempunyai tujuan untuk menomer satukan kepentingan umum dan masyarakat diatas kepentingan kita pribadi,"  katanya.

Bayi stunting adalah bayi yang mengalami masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu lama, umumnya karena asupan makan yang tidak sesuai kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun.

Selain pertumbuhan terhambat, stunting juga dikaitkan dengan perkembangan otak yang tidak maksimal, yang menyebabkan kemampuan mental dan belajar kurang, serta prestasi sekolah buruk. Data Dinas Kesehatan Pemkab Jember 2017 menyebutkan kondisi bayi stunting, mencapai 29 ribu anak.

Ada 10 desa prioritas yang kini dilakukan pencegahan stunting melalui pengobatan kecacingan, yaitu, Desa Ngampelrejo, Jombang, Desa Purwoasri, Gumukmas, Desa Glagahwero, Panti, Desa Cangkring, Jenggawah, Desa Tempurejo, Desa  Jelbuk, Desa Patempuran, dan Desa Gambiran Kecamatan Kalisat.

Data prevalensi stunting di Jawa Timur 2017 Jember tertinggi ke-9 setelah Sumenep dan probolinggo. Jumalah Bayi Stunting di Puskesmas Jelbuk: 804, Arjasa: 1.042, Sumberjambe: 1.635, Mayang: 1.192, Paleran: 699, Cakru: 483, Rambipuji: 1.002, Kencong: 640, Sumberbaru: 1.218, dan Kasiyan: 955.  (yond).

Berita Terkait Kesehatan

No comments: