"Majalah Gempur Online kini hadir di Aplikasi Play store atau Google play. Untuk berlangganan berita-berita terbaru kami, silahkan download Aplikasi ini: https://play.google.com/store/apps/details?id=org.mysel.majalahgempur"

Friday, 11 December 2020

Minat Pemuda di Jember Belajar Gerabah Masih Rendah

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Meski Gerabah menjadi slah-satu produk unggulan diJember Selatan. Mayoritas Generasi Muda Kurang tertarik belajar kerajinan dari tanah liat ini.

"Hingga saat ini, kebanyakan yang menggeluti kerajinan ini adalah para orang tua, atau janda, anak mudanya jarang mas," Ungkap Sekertaris Desa Kesilir Sugianto, di Ruangannya, Kantor Desa Kesilir Kecamatan Wuluhan. Jumat (11/12/2020).

Mungkin karena proses pembuatannya cukup rumit,  belum lagi waktu musim hujan pengeringannya juga lama dan pasarnya juga belum banyak. Akibatnya  generasi muda tidak begitu tertarik. "Kalau anak muda sukanya kan yang Simple, keuntungannya banyak.," Tambahnya.

Diakui, memang banyak anak sekolah yang belajar. “Namanya anak sekolah kan hanya sebatas belajar mata pelajaran Cipta Karya, nyatanya belum tertarik. Kebanyakan yang tua, yang muda pada tidak mau, istilahnya regenerasinya kurang," Terangnya

Untuk menarik perhatian generasi muda, pelaku usaha terus melakukan pelatihan pemasaran dan inovasi produk tersebut. "Setidaknya bisa mencukupi kebutuhan sendiri, jika nanti kebutuhan sudah terpenuhi otomatis anak muda nanti tertarik dengan kerajinan Gerabah," Tuturnya

Menurutnya, hampir setiap tahun sejumlah siswa mendatangi rumahnya untuk belajar kerajinan gerabah dirumahnya, mulai  dari SMK Balung, Yasinat, Sukowono dan Anak KKN dari UIJ dan UNEJ," klata Warga Dusun Babatan Desa Kesilir ini.

Lilis juga memberikan fasilitas atau tempat berteduh untuk praktek, agar mereka tidak kepanasan saat praktek. " Kasian mas, nggak tega sebenarnya saya melihat mereka kepanasan, makanya saya berharap kedepan bisa buatkan tempat bagi anak-anak," Tambahnya.

Hal tersebut, sebetulnya telah di ajukan terhadap Pemerintah Desa (Pemdes), namun sampai sekarang belum ada kepastiannya." Saya sudah sampaikan pada Pemerintah desa, tapi belum ada kejelasan. ya saya sadari karena ini belum masuk Bumdes,"Terangnya

Sejauh ini belum dibentuk kelompok. Lantaran, belum ada pengurus yang siap tanggung Jawab jika ada kendala saat musim hujan. "Soalnya pembakarannya lama dan pengrajin itu tidak bisa kemana-mana harus duduk buat gerabahnya, kalo jalan-jalan malah nggak jadi," Tuturnya

Sugianto berharap para generasi muda bisa mempertahankan kerajinan itu. sebab, Gerabah sendiri bagian simbol desa. "Saya hanya berharap supaya mencintai produk yang kenjadi Icon desa Kesilirir ini, sehingga mampu menumbuh kembangkan ekonomi untuk warga," terangnya

Sementara salah satu Pengrajin Gerabah Lilis Indrawani, warga Dusun Babatan  mengaku bahwa kerajinan tersebut kebanyakan memang turun termurun. "Dari nenek moyang kemudian dari orang tua saya, lalu saya dan sekarang saya juga sudah ajarkan pada menantu," Tanggapnya

Untuk pasarnya normal. Muli pasar Tradisional maupun online hingga diluar negri. "Kalo pemasaran tradisional tergolong lancar, dan hasil penjualan kita sudah sampai diluar kota seperti Probolinggo, Jakarta, Kalimantan bahkan kemarin sampai di Hindia," Jelasnya

Pengrajin Gerabah Ini juga sempat mengikuti pelatihan di Dinas Industri dan Perdagangan, untuk inovasi hasil produk." Ya sempat ikut pelatihan dari Disperindag, tapi kebanyakan kita sendiri yang mengembangkannya, seperti buat celengan," Ucapnya

Untuk harga, tergantung tingkat kesulitannya. Sehingga keuntungan per bulan tidak sama. "Kadang ada yang kecil tapi mahal, ada yang gede tapi murah. Jadi saya tidak bisa memukul rata hasilnya setiap bulan berapa, karena pesanannya juga beda beda,"tandasnya (Naw).

Berita Terkait Ekonomi Bisnis

No comments: