Jakarta – Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) resmi memproses normalisasi akses layanan Grok, chatbot kecerdasan buatan (AI) milik X Corp (sebelumnya Twitter), di Indonesia mulai 1 Februari 2026. Pembukaan akses ini dilakukan secara bersyarat dan tetap berada di bawah pengawasan ketat, setelah sebelumnya diblokir sementara sejak awal Januari 2026 karena penyalahgunaan untuk menghasilkan konten pornografi, termasuk deepfake non-konsensual.
Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Kemkomdigi, Alexander Sabar, menjelaskan bahwa keputusan ini diambil setelah X Corp menyampaikan komitmen tertulis resmi. Komitmen tersebut memuat langkah-langkah konkret perbaikan layanan, seperti penguatan pelindungan teknis, pembatasan akses fitur tertentu, penajaman kebijakan internal, penegakan aturan lebih ketat, serta aktivasi protokol respons insiden cepat terhadap penyalahgunaan.
"Normalisasi akses layanan Grok dilakukan secara bersyarat setelah X Corp menyampaikan komitmen tertulis yang memuat langkah-langkah konkret perbaikan layanan dan pencegahan penyalahgunaan. Komitmen ini menjadi dasar evaluasi, bukan akhir dari proses pengawasan," ujar Alexander Sabar dalam keterangan resmi, dikutip Minggu (1/2/2026).
Menurut data Kemkomdigi dan laporan global, penyalahgunaan AI untuk konten asusila melonjak signifikan. Secara internasional, jumlah file deepfake meningkat drastis dari sekitar 500 ribu menjadi 8 juta pada 2025, dengan 96-98% berupa pornografi non-konsensual dan 99% korban perempuan. Di Indonesia, kasus penipuan berbasis deepfake naik hingga 1.550% dalam periode terakhir, memicu kekhawatiran serius terhadap perlindungan masyarakat, khususnya perempuan dan anak.
Pemblokiran sementara Grok sebelumnya menjadi respons tegas pemerintah untuk melindungi ruang digital dari risiko serupa. Kini, dengan komitmen X Corp, akses ke grok.com, x.ai, serta aplikasi mandiri Grok di perangkat mobile telah kembali normal per 1 Februari 2026.
Rickhardo Hasudungan Tumanggor, anggota FAA PPMI (Forum Alumni Aktivis Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia), menyambut baik kebijakan ini dengan catatan teknis dan berbasis data. Ia menilai langkah Kemkomdigi sebagai bentuk keseimbangan antara inovasi teknologi dan perlindungan masyarakat.
"Secara teknis, komitmen X Corp ini positif karena Grok sudah memiliki guardrail ketat sejak awal—tolak output eksplisit, hanya tersedia untuk pengguna Premium+, dan minim kasus deepfake dibanding AI lain. Data global menunjukkan 96-98% deepfake pornografi berasal dari platform tanpa filter kuat, sementara Indonesia catat lonjakan penipuan deepfake 1.550%. Pembukaan bersyarat ini adil, asal pengawasan berlanjut dan app lokal NSFW/deepfake juga difilter ketat di Play Store. Ini peluang kolaborasi: AMA terbuka Grok-xAI dengan Komdigi & komunitas untuk bahas etika AI, guardrail, dan regulasi masa depan," tutur Rickhardo.
Kemkomdigi menegaskan pengawasan berkelanjutan akan dilakukan, termasuk evaluasi berkala. Jika ditemukan pelanggaran, akses bisa dibatasi kembali. Langkah ini diharapkan mendorong platform global lebih patuh regulasi lokal sambil menjaga inovasi AI yang aman dan bertanggung jawab. - RCX
