Besuki, 10 Januari 2026
Hari ini, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) resmi memutus akses Grok—AI milik xAI yang terintegrasi dengan platform X—di seluruh Indonesia. Alasan resminya: “melindungi masyarakat dari penyalahgunaan fitur deepfake dan konten asusila yang viral belakangan ini.” Langkah cepat, tegas, dan... sangat selektif.
Saya buka Google Play Store di ponsel saya sekarang juga. Ketik “Lovia AI”—muncul. Download bebas. Ketik “Playrole.ai”—juga masih ada, siap di-install siapa saja. Kedua aplikasi ini bukan sekadar chatbot biasa. Lovia AI memungkinkan pengguna membuat karakter virtual hiper-realistis, roleplay tanpa batas, termasuk generate gambar dan skenario yang dengan mudah meluncur ke ranah NSFW atau deepfake. Playrole.ai bahkan lebih terang-terangan: “explore intriguing topics 24/7”, dengan fitur serupa yang bisa dimanfaatkan untuk konten manipulatif.
Belum lagi aplikasi-aplikasi deepfake eksplisit lain seperti Deepfake Studio atau face-swap tool yang masih nongkrong nyaman di Play Store Indonesia. Semuanya bisa di-download tanpa hambatan, tanpa peringatan khusus, tanpa pemutusan akses. Tapi Grok? Langsung diputus total. Padahal xAI sudah responsif: membatasi fitur image generation hanya untuk subscriber berbayar dan terus memperkuat guardrail.
Ini bukan soal membela satu AI tertentu. Ini soal konsistensi dan logika.
Kalau Komdigi serius ingin lindungi masyarakat dari deepfake, kenapa hanya Grok yang kena? Kenapa tidak mulai dari aplikasi-aplikasi yang lebih eksplisit dan lebih mudah diakses anak di bawah umur? Kenapa judi online (judol) yang tiap hari bikin ribuan keluarga hancur masih bisa beroperasi lewat ribuan situs dan aplikasi kloning? Kerugian judol jauh lebih masif—puluhan triliun rupiah per tahun, kecanduan, bunuh diri—tapi penanganannya masih setengah hati.
Apakah ini murni ketidakpahaman teknologi? Atau ada agenda lain yang membuat satu platform besar jadi target empuk, sementara yang kecil-kecil dibiarkan lolos? Grok terintegrasi dengan X yang punya jutaan pengguna aktif di Indonesia—mungkin terlalu “terlihat” sehingga mudah dijadikan kambing hitam. Sementara aplikasi deepfake lain berserakan di Play Store, kurang viral, jadi aman.
Akibatnya? Indonesia semakin tertinggal dalam adopsi teknologi AI yang bertanggung jawab. Negara lain seperti Singapura, Uni Eropa, bahkan India, memilih pendekatan regulasi yang cerdas: kolaborasi dengan developer, standar etika bersama, bukan blokir mentah-mentah. Kita malah memilih jalan pintas yang justru membatasi akses masyarakat terhadap tools inovatif yang bisa digunakan untuk pendidikan, kreativitas, dan produktivitas.
Komdigi, kalau memang serius lindungi rakyat, buktikan dengan tindakan yang adil:
Take down aplikasi deepfake berbahaya di Play Store dan App Store.
Blokir judol secara total, bukan cuma simbolis.
Duduk bersama xAI dan developer lain untuk buat regulasi yang proporsional, bukan reaktif.
AI adalah kenyataan yang tak bisa dibendung. Blokir satu pintu, pengguna akan cari pintu lain—VPN, mirror site, aplikasi alternatif. Yang rugi akhirnya rakyat Indonesia sendiri: tertinggal di era kecerdasan buatan, sementara negara lain maju pesat.
Grok mungkin “mati” sementara di Indonesia resmi. Tapi semangat inovasi dan kebebasan berekspresi tidak akan mati begitu saja.
Ricky Tumanggor
Anggota FAA PPMI (Forum Alumni Aktivis Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia)
@RickTumanggor
