JEMBER – Sebuah video yang diunggah akun TikTok @mbukedebung dengan nama akun Mambaul Ulum Saiful Bahri mendadak viral setelah menampilkan situasi ricuh terkait pendirian sebuah pentas kegiatan di lingkungan Pondok Pesantren (Ponpes) Mambaul Ulum Saiful Bahri. Peristiwa tersebut terjadi di Dusun Krajan, Desa Karangkedawung, Kecamatan Mumbulsari, Kabupaten Jember.
Kericuhan diduga dipicu karena adanya pendirian pentas di halaman rumah pengasuh pondok pesantren, Kyai Muhammad Abdul Majid, SH, tanpa adanya izin dari pihak keluarga.
Kyai Abdul Majid menegaskan bahwa dirinya tidak menerima apabila halaman rumahnya digunakan sebagai lokasi kegiatan tanpa persetujuan resmi. Ia menyebut, persoalan tersebut seharusnya bisa dihindari apabila semua pihak memahami etika dan menghormati aturan internal pondok pesantren.
“Saya menolak pendirian pentas karena tanpa izin saya dan keluarga,” tegas Kyai Abdul Majid saat ditemui awak media.
Kyai Abdul Majid diketahui merupakan anak kandung dari almarhum Kyai Saiful Bahri Suja’i, pendiri awal Ponpes Mambaul Ulum Saiful Bahri. Dalam sejarah kepemimpinan pesantren, almarhum Kyai Saiful Bahri sempat mewariskan tongkat kepemimpinan kepada menantunya (suami dari putri pertama kyai Saiful Bahri suja'i) yakni Kyai As’adur Rofiq.
Kini kepemimpinan pondok pesantren dilanjutkan oleh Kyai Abdul Majid (putra kedua kyai Saiful Bahri suja'i) sebagai putra kandung pendiri pesantren tersebut.
Menurut Kyai Abdul Majid, kericuhan yang terjadi tidak perlu terjadi apabila semua pihak benar-benar menghormati silsilah pendiri pesantren serta memahami bahwa area pondok memiliki aturan dan tata krama tersendiri.
Ia juga mengingatkan agar persoalan internal pondok pesantren tidak melibatkan pihak luar yang tidak berkepentingan.
“Karena urusan halaman rumah yang ada di dalam area pondok pesantren adalah urusan internal keluarga besar Ponpes Mambaul Ulum Saiful Bahri, bukan konsumsi pihak luar keluarga,” ujarnya.
Selain itu, Kyai Abdul Majid juga meminta pihak aparat keamanan, khususnya Polsek Mumbulsari dan Polres Jember, agar lebih sering melakukan patroli di sekitar kawasan pondok pesantren. Ia berharap tindakan preventif tersebut dapat mencegah terulangnya insiden serupa yang berpotensi menimbulkan konflik di lingkungan pesantren.
“Kami berharap patroli lebih sering dilakukan agar kejadian ricuh seperti beberapa waktu lalu bisa diantisipasi,” pungkasnya.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak penyelenggara kegiatan maupun aparat terkait mengenai kronologi lengkap kejadian tersebut. Namun video yang beredar luas di media sosial telah memicu perhatian publik dan beragam komentar dari warganet. - RCX
