Selamat Hari Jadi Jember ke 96

https://draft.blogger.com/blog/page/edit/1360945809311009771/7858131956542366929

Translate

Iklan

Dari Perbukitan Dlingo, Litto Jogja Menembus 25 Besar WISH 2026

Majalah Gempur
Senin, 14 September 2026, 14.26 WIB Last Updated 2026-09-14T07:41:42Z


Bantul, MAJALAH-GEMPUR.Com - Di tengah geliat industri pariwisata yang terus berkembang, Litto Jogja memilih jalan yang berbeda. Dari perbukitan Dlingo, Kabupaten Bantul, mereka membangun gagasan pariwisata yang mempertemukan manusia dengan alam, pangan, kesehatan, dan masyarakat lokal.

Gagasan itu kini dibawa ke panggung nasional.


Litto Jogja terpilih sebagai salah satu Top 25 Wonderful Indonesia Scale-Up Hub (WISH) 2026, setelah melewati proses seleksi yang diikuti 570 pelaku usaha pariwisata dari berbagai daerah di Indonesia.

Bagi Litto Jogja, masuknya ke jajaran 25 besar bukan sekadar pencapaian. Ini menjadi kesempatan untuk menguji dan mengembangkan model pariwisata berkelanjutan yang dibangun dari kawasan perbukitan Dlingo.


Founder Litto Jogja, Irma Devita, mengatakan capaian tersebut sekaligus membawa tanggung jawab baru bagi pengelola.

“Masuk Top 25 WISH 2026 bukanlah garis akhir. Bagi kami, ini merupakan validasi sekaligus tanggung jawab untuk membangun Litto dengan konsep yang semakin matang, pelayanan yang semakin baik, dan dampak yang semakin nyata bagi lingkungan serta masyarakat sekitar,” ujar Irma.

Salah satu karakter utama Litto adalah konsep satoyama, pendekatan yang menempatkan manusia, alam, pangan, dan komunitas dalam hubungan yang saling menjaga.

Namun, Litto tidak sekadar menghadirkan nuansa Jepang di tengah perbukitan Dlingo. Prinsip satoyama diterjemahkan melalui kekayaan lokal Yogyakarta.

Kebun pangan, hasil bumi, budaya, kehidupan masyarakat, serta lingkungan perbukitan menjadi bagian dari pengalaman yang ditawarkan kepada pengunjung.

“Satoyama bagi Litto bukan sekadar nuansa Jepang. Nilai utamanya terletak pada bagaimana manusia membangun kembali hubungan yang sehat dengan alam, makanan, komunitas, dan dirinya sendiri. Kerangka tersebut kami hadirkan dengan jiwa lokal Jogja,” jelas Irma.

Konsep itu diwujudkan melalui pengelolaan kawasan hijau, kebun pangan, pengalaman garden-to-table, aktivitas berbasis alam, pembelajaran lingkungan, hingga program kebugaran dan refleksi.

Litto juga tidak ingin berhenti sebagai tempat untuk bermalam dan menikmati pemandangan.

Kawasan tersebut dikembangkan sebagai ruang untuk beristirahat, belajar, membangun koneksi, dan kembali merasakan kedekatan dengan alam.

Pengembangan Litto bertumpu pada empat bidang utama, yakni hospitality, wellness, gastronomi, dan eco-learning.

Pada aspek wellness, pengunjung dapat mengikuti aktivitas seperti mindful walking dan forest bathing. Sementara pada sisi gastronomi, pengalaman garden-to-table mengajak pengunjung mengenal perjalanan pangan dari kebun hingga meja makan.

Adapun eco-learning dikembangkan untuk memperkenalkan tanaman, hewan, pangan, lingkungan, dan prinsip keberlanjutan.

Berbagai program pun disiapkan, mulai dari corporate retreat, executive wellness retreat, eco-learning untuk sekolah, garden-to-table experience, community gathering hingga professional learning escape.

Pertumbuhan Litto diarahkan agar tetap berjalan beriringan dengan lingkungan dan masyarakat sekitar.

Penggunaan sumber daya lokal, kolaborasi dengan masyarakat dan pelaku usaha setempat, serta edukasi mengenai asal pangan menjadi bagian dari upaya membangun pariwisata yang memberikan manfaat lebih luas.

Ke depan, Litto akan memperluas kemitraan dengan sekolah, universitas, perusahaan, komunitas, operator perjalanan, destination management company, serta lembaga pemerintah dan swasta.

“Litto lahir dari sebuah perjalanan yang sangat personal. Namun kami ingin manfaatnya tumbuh melampaui para pendirinya. Kami ingin Litto menjadi tempat yang membantu orang beristirahat, kembali terhubung, lalu bangkit dengan kesadaran dan energi yang baru,” tutur Irma.

Sebagai bagian dari Top 25 WISH 2026, Litto selanjutnya akan mengikuti pendampingan intensif secara one-on-one, penguatan model bisnis, serta persiapan menuju Demo Day.

Tahapan tersebut menjadi kesempatan bagi Litto untuk mempertajam model bisnis, mengembangkan produk, meningkatkan standar operasional, memperluas jejaring, serta memperkuat dampak sosial dan lingkungan.

Meski demikian, arah pertumbuhan Litto tidak semata-mata berorientasi pada ekspansi fisik.

Karakter lokal Dlingo dan Yogyakarta tetap menjadi bagian penting dari pengembangan destinasi tersebut.

Dari perbukitan Dlingo, Litto Jogja kini mencoba membuktikan bahwa pariwisata berkelanjutan tidak harus meninggalkan akar lokal.

Justru dari alam, pangan, dan kehidupan masyarakat setempat, sebuah destinasi dapat tumbuh dan melangkah ke panggung pariwisata nasional.

(han/eros)

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Dari Perbukitan Dlingo, Litto Jogja Menembus 25 Besar WISH 2026

Terkini