"Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017"
Custom Search

Saturday, November 14, 2015

Apa Kata Cabup Jember Tentang Terpuruknya PDP Dan Anjloknya Harga Tembakau

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com.  Debat publik Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati (Cabup–Cawabup) putaran kedua bertema ‘Peningkatan Pelayanan kepada Masyarakat dan Penyelesaian Persoalan Daerah’.

Debat dipandu oleh Nur Sholikin dari akademisi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kabupaten Jember, yang juga sebagai tim perumus. Pembahasan dalam debat yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Jember kali ini berlangsung cukup dinamis..

Kalau dalam putaran pertama dibahas dua isu sensitive tentang Potensi Tambang dan Meneral serta dampaknya lingkungan dan Menjamurnya pasar modern berjaringan. Pada debat putaran kedua ini juga muncul dua isu sensitive yaitu tentang Terpuruknya PDP Kahyangan dan anjloknya harga Tembakau petani

Menanggapi kedua isu seksi ini kedua Pasangan Calon (Paslon) Bupati dan Wakil Bupati Jember Sugiarto – Dwi Koryanto (Paslon nomor urut 1) dengan Faida – Abdul Muqit Arief (Paslon nomor urut 2 Sabtu malam (14/11) di Edelweiss Grand Ballroom Cempaka Hill Hotel Jember, tammpak serius.

Terpuruknya PDP Kahyangan
Perusahaan Daerah Perkebunan (PDP) Kahyangan juga menjadi isu sensitif didebat kali ini, pasalnya saat ini kondisi perusahaan milik daerah ini sedang mengalami krisis manajemen dan keuangan. Debat soal PDP diawali Cawabup nomor urut 2, Kh Abdul Muqiet  Arief, yang mempertanyakannya kepada Paslon No Urut.1

Apa yang menyebabkan perusahaan daerah perkebunan kondisinya terpuruk? dan apa yang semestinya dilakukan yang selama ini belum dilakukan oleh perusahaan tersebut. padahal ribuan orang menggantungkan hidupnya dari perusahaan pdp tersebut? Tanya Muqiet  Arief.

Menanggapi pertanyaan tersebut Sugiarto menjelaskan bahwa; PDP adalah perusahan perkebunan yang hanya ada di Jember diseluruh indonesia. “Pasang surutnya PDP ini tidak terlepas dari Lahan lahan yang sudah tua tanamannya,  Sumber Daya Manusianya”.  Terangnya.

Bagaimana mereka bisa meningkatkan produksi Karet, Kopi dan coklat di lahan yang menjadi Icon PDP yaitu, karena selama ketiga tanaman tersebut kurang peremajaan. sehingga para tenaga kerja hanya bisa memproduksi produk lama.  

“Tapi bukan berarti tidak ada upaya peremajaan di PDP. Selain itu harga karet dipasaran dunia turun yang mengakibatkan penerimaan turun yang otomatis penyertaan dan pendapatan hasil laba tidak bisa diharapkan”.  Jelasnya.

Stitmen itu disangkal dr. Faida. Menurutnya  probem pdp sudah lama, bukan naik turun tapi turun secara perlahan lahan dalam waktu yang lama dan dibiarkan. seharusnya pengelola PDP bisa memilih berbagai strategi oleh penanggung jawabnya.

“Kalau lagi Tumbuh Exspansi, Kalau lagi pada titik tertentu konsolidasi pada Titik tertentu perusahaan dikecilkan BAHKAN pada titik tertentu perusahaan ditutup untuk menyelamatkan perusahaan. saya melihat sekian tahun belum ada ikhtiar yang sungguh sungguh untuk menyelamatkan PDP ini dari pengelola perusahaan”. katanya

Soegiarto balik menyangkal: pdp ini sedang sakit bukan berarti perusahaan Ditutup, bukan dibunuh. PDP ini menaungi ribuan pegawai.  bagaimana seorang direksi memberikan yang terbaik utamanya menyangkut kesejahteraan seluruh karyawan.

Sulit memang dengan kondisi tanaman yang sudah tua , Lahan yang begitu luas, dan Tenaga kerja yang begitu banyak, diharapkan untuk bisa sinergi. Sebenarnya sudah banyak upaya upaya yaitu terkait dengan masalah kerjasama dengan pihak ketiga,

Pihak ketiga ini diharapkan bisa mensuplai, menginvestasikan terkait banyaknya modal yang dibutuhkan PDP. lanjutnya. “Hanya kemarin KSU ini ditangkap seakan akan terjadi Take Over pada perusahaan diluar Jember. Padahal tujuannya adalah untuk lebih meningkatkan produktivitas”.  Jelasnya.

Anjloknya Harga Tembakau
Dunia pertembakauan juga menjadi pembahasan seksi dalam debat Cabup putaran kedua ini. Moderator Nur solihin melontarkan pertanyaan. Tembakau merupakan Icon Jember, akan tetapi kondisi petani tembakau tidak menentu karena harganya terus menurun bahkan tahun ini anjlok. Pertanyaannya adalah bagaimana langkah saudara untuk mengatasi persoalan tersebut?.

Kondisi pertembakauan di Jember, Kenapa saya tahan, 1 icon, Symbol lambang pemerintahan daerah adalah tembakau. Yang kedua justru ditahun ini kenapa jatuh harga dari tembakau. “Saya juga mohon maaf perokok, sehingga apabila nasib petani tembakau ini dalam kondisi sulit sayapun juga merasakan” Tuturnya

Terkait kondisi tembakau beberapa tahun ini terjadi penurunan harga, Sugiarto, memberikan data. Bahwasannya Luas Areal Tembakau Di Jember Adalah 17.000 Hektar. Tujuhbelas ribu hektar ini dibutuhkan oleh pabrik pabrik tembakau ini 9000 hektar. Tapi para petani ini sangat sangat cukup bermanfaat apabila menanam tembakau. Karena hampir tiap tahun para petani ini menanam tembakau.

“Saya melihat kondisi ini meriskankan bagi para petani, kebutuhan 9 hektar ditanam oleh 17 hektar lahan tembakau, sehingga terjadi kelebihan produk daripada tembakau itu sendiri. Ditahun ini juga terjadi bencana alam, gunung raung mengeluarkan debunya, sehingga melekatlah kepada daun tembakau. sehingga kualitas residunya cukup tinggi sehingga tidak laku untuk dijual”. Jelasnya

Kami dari calon bupati ingin memberikan solusi, andaikata ini bisa dikatakan kondisi darurat maka kita bisa memberikan bantuan lewat kondisi keadaan darurat lewat dana tidak terduga. Tapi system yang akan kita lakukan nanti. Bagaimana ini bisa dirasakan oleh seluruh warga masyarakat kabupaten Jember yang punya mata pencaharian tembakau. tambahnya. Yang kedua, kita bisa mengalokasikan lewat dana alokasi cukai. kita bisa memberikan ini untuk bantuan bibit, benih, dan sebagainya pada para petani tembakau. Tambahnya.

“Disamping itu pemerintah perlu hadir lebih dalam pada petani, dengan memberikan advokasi, dengan meningkatkan bargaining, dan komunikasi pemilik gudang maupun pabrik. Bahkan juga kita perlu terus meningkatkan kualitas” Tambah dr Dwi

Sementara menurut paslon Nomor 2 dr. Faida MMR bahwa untuk mengatasi masalah rendahnya harga tembakau di Jember, ini dipengaruhi oleh kualitas dari tembakau itu sendiri. Untuk itu untuk mengatasi masalah tembakau akan diambil beberapa langkah.

“Yang pertama, Pemerintah Memberikan informasi tentang iklim Yang Sangat Diperlukan Oleh Petani Dalam Penanaman Tembakau. Yang kedua, Pemerintah menyediakan benih unggul Meningkatkan Kualitas Produksi Tembakau” Jelasnya.

Selanjutnya menurut dr Faida, Untuk mengatasi kesenjangan. Pemerintah memberikan informasi tentang volume pembelian dari exportir yang selama ini menjadi informasi yang sangat tertutup bagi petani tembakau dan yang terakhir Pemerintah mengoptimalkan peran komisi urusan tembakau jember (KUTJ) dan mengoptimalkan perannya sebagai mitra pemerintah dalam melaksanakan program program diatas.

Sementara menurut wakil paslon 2, Kyai Mukiet: bahwa masalah tembakau ini menyangkut hajat hidup orang banyak. Tembakau memang menjadi icon Jember. Sebagaimana tadi yang sudah disampaikan tetapi pada sisi yang lain saya pikir bahwa bukan hanya pada tahun ini para petani tembakau itu selalu terperosok, selalu dirugikan, selalu sulit didalam memasarkan produknya. Oleh karena itu apabila persoalan itu adalah persoalan iklim, saya pikir itu adalah persoalan yang berkaitan dengan alam.  jelasnya

Tetapi apabila persoalan itu berkaitan dengan tata niaga maka ini adalah persoalan yang harus kita lakukan perlu mencari suatu solusi yang harus kita lakukan dengan cara menyeluruh. Dalam hal ini mungkin yang bisa kita lakukan adalah Bagaimana Meningkatkan pengetahuan para petani tentang tembakau itu sendiri. mengenalkan bibit yang baik , bagaimana petani mengetahui iklim yang akan terjadi.

“Bagaimana Petani Harus tahu seberapa banyak jumlah tembakau yang dibutuhkan oleh pabrikan atau perusahaan rokok. Dengan Demikian Maka Para Petani Akan dengan Sendirinya bisa membuat sebuah terobosan strategi. Petani akan tahu kapan akan harus menanam dan kapan tidak menanam. seberapa banyak mereka harus menanam dan seberapa sedikit mereka harus menanam”.  tambahnya

Akses informasi yang semacam ini yang selama ini tidak dimiliki oleh para petani. “Padahal seperti kita tahu perusahaan perusahaan rokok yang besar besar, lihat saja iklannya di televisi bisa menunjukkan betapa kayanya mereka. Pada satu sisi para petani tembakau yang sangat terpuruk itu adalah merupakan persoalan lain. Dan ini adalah persoalan kita semua”. Pungkasnya.

Diluar dua isu seksi yang dibahas dalam debat Publik Cabup dan Cawabup putaran kedua tersebut juga dibahas Persoalan Kesenjangan pendidikan, pelayanan Administrasi dan birokrasi yang bersih, serta perbaikan sarana dan prasarana wilayah maritim.

Persoalan kesenjangan pendidikan
Paslon Sugiarto–Dwi Koryanto menekankan pada perbaikan sarana, prasarana pendidikan dan pemerataan kualitas guru. “Kita harus fokus kepada produk dalam dunia pendidikan dan juga kompetensi, agar mendapatkan kualitas pendidikan yang merata dari desa hingga kota,” kata Sugiarto.

Sedangkan menurut Paslon Faida – Abdul Muqit Arief, pendidikan akan diperuntukkan untuk semua kalangan. “Bukan hanya untuk orang kota tetapi untuk desa. Bukan hanya untuk kaya tetapi juga miskin. Kita akan pastikan pendidikan gratis hingga bangku SMA,” jawab Faida.

Pelayan administrasi dan Birokrasi yang bersih
Menurut mantan Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Jember, pihaknya telah membuat terobosan sistem administrasi pemerintahan.“Untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, kami harus meningkatkan SDM dan menunjuk orang yang berkompeten di bidangnya. Nantinya kita akan bangun pelayanan satu atap,” ujar Sugiarto.

Sedangkan Faida berjanji akan merubah sistem birokrasi berdasarkan kinerja. Dia juga berjanji jika kegiatan rekrutmen dan mutasi Pegawai Negeri Sipil (PNS) akan dilakukan secara transparan. “Kami akan melakukan reformasi birokrasi yang tidak korup. Mensejahterakan PNS dan Honorer. Niatan kita sebagai pemimpin Jember harus tulus untuk pengabdian kepada masyarakat,” ujarnya.

Perbaikan sarana dan prasarana wilayah maritim
Kedua paslon memiliki solusi yang berbeda. “Nelayan perlu rumpon untuk memudahkan nelayan mencari ikan. Sementara ini TPI di Puger tidak bisa berjalan dengan baik dan tidak menguntungkan nelayan. Kita perlu pendirian TPI yang lebih baik dan kita perlu bantu nelayan dengan mesin tempel,” kata Sugiarto.

Sedangkan Faida menilai potensi kemaritiman masih belum tergali optimal. Untuk itu perlu ada pengembangan studi kemaritiman di setiap wilayah pesisir di Kabupaten Jember, meningkatkan kesehjahteraan masyarakat pesisir dan peningkatan wisata maritim. (tim)

Berita Terkait Politik dan Hukum

No comments: