"Selamat kepada 14 Partai Politik Nasional dan 4 Partai Politik Lokal Aceh yang lolos menjadi peserta Pemlihan Umum Tahun Tahun 2019"
Custom Search

Tuesday, 13 February 2018

Bocah Yatim Di Situbondo ini Rela Menanggung Beban Keluarganya

Situbondo, MAJLAH-GEMPUR.Com. Disaat anak-anak bersekolah lain bisa bermain dengan temannya bahkan mendapat kasih-sayang orang tua, namun Wita Humairoh (11) ini harus menaggung beban keluarganya.

Bocah kelas 5 SD rela menaggung beban untuk menghidupi kebutuhan orang tuanya bersama adik angkatnya yang masih Baalita bernama Prili. Untuk itu Wita rela menyandang peran sebagai kepala rumah tangganya di jl Palaosa, Kelurahan Patokan, kecamatan /k abupaten Situbondo .

Hal ini dilakukan sejak sosok ayahnya meninggal 7 tahun silam dan ibunya yang sakit-sakitan. “Saya masih sekolah SD om, saya bantu ibu yang sakit, saya sayang ibu dan adik, untuk makan kadang saya jual barang yang tersisa diwarung ibu yang sudah lama tutup ," tuturnya dengan wajah murung Selasa ( 13/2/2018).

Akibatnya bocah yang tinggal bersama Ibunya Siti Nuraini (50) dan adiknya, tidak lagi bisa menikmati waktu bermainya. Sebelum berangkat sekolah harus mengurus ibu dan adiknya. Sebelum berangkat sekolah Wita menanak nasi di dapur yang gelap dan lembab, Ia juga harus memandikan adiknya yang masih balita.

Wita mengaku pernah tiga hari tidak ada yang dimakan. Selepas isya' mata si gadis kercill yatim murni itu terlihat begitu berbinar saat kedatangan tamu yang membawa 6 bungkus mie instan dan 1/2 kg telur.  "Kadang ada yang bawa makanan, karena saya dan adik juga ibu sudah tiga hari gak makan," ucapnya.

Meski dalam keadaan kekurangan Wita mengaku tak pernah menyerah dan putus asa untuk tetap bersekolah, dan tidak mau minta - minta di jalan, dihatinya hanya terdapat kemauan yang kuat untuk membahagiakan ibunya yang kini terbaring lemas di tempat tidur karena menderita penyakit Diabetes selam 3 bulan.

Keadaan Rumah berukuran 4x5 meter, kotor dan berantakan dan jauh dari standar kelayakan menjadi tempat tinggal Wita bersama  ibu serta adiknya." Saya merasa senang walaupun saya miskin om, tapi saya punya adik dan ibu yang masih kumpul dengan saya" ucapnya lirih.

Meski tidak merasakan fasilitas pendidikan, seperti teman di sekolahnya ia tak pernah berkecil hati, bahkan sekalipun ia sering dikucilkan oleh teman di sekolahnya tak pernah mematahkan semangatnya. Wita  mengaku sering dikucilkan karena miskin.

Sementara sang ibu Siti Nuaraini hanya mampu menangis karena  tak tega melihat anaknya harus menangung beban keluarga. "Sebenarnya saya gak tega saja mas, ya bagimana lagi kondisi saya seperti ini, saya hanya bisa berdoa semoga saya mampu menyekolahkan anak - anak," ucap Siti sambil menderai menagis.

Karena tak mampu berobat, ia hanya terbaring lemas di tempat tidur, tak bisa membantu bersih - bersih, mencuci dan memasak. Mereka hanya berharap perhatian Pemkab situbondo. "Mau berobat gak punya uang, ya saya biarkan saja penyakit ini, saya berharap ada bantuan dari pemerintah," harapnya.

Sementara menanggapi persoalan tersebut, saat dihubungi melalui Via Telepon Hery  Pada Dinas Sosial Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Situbondo mengatakan scepatnya akan melakukan pendataan bersama timnya, akan turun langsung survei ke kerumahnya. (edo).

Berita Terkait Sosial Budaya

No comments: