"Majalah Gempur Online kini hadir di Aplikasi Play store atau Google play. Untuk berlangganan berita-berita terbaru kami, silahkan download Aplikasi ini: https://play.google.com/store/apps/details?id=org.mysel.majalahgempur"

Monday, 4 May 2020

Warga Tidak Mampu yang Merawat Lima Anak Yatim-Piatu di Jember ini Terharu Rumahnya Dibangun

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Sulastri (50 Tahun) warga Dusun Jatiagung, Desa Gumukmas, Kecamatan Gumukmas, Kabupaten Jember merasa bahagia dan terharu, lantaran tempatnya berteduh sudah terlihat lebih baik dan siap dihuni setelah mendapat bantuan renovasi rumah dari komunitas Berita Gumukmas (BG). Senin 4 April 2020.

Meski ukuran rumahnya hanya 4x7, namun Sulastri merasa lega sebab bersama lima anak yatim piatu yang dia besarkan tidak perlu lagi khawatir akan pindah rumah, "Saya mengucapkan terima kasih kepada BG dan para simpatisan yang peduli kepada saya dan ke 5 anak ini yang ditinggal kedua orang tuanya," ujar Sulastri dengan logat jawa.

Selama ini, Sulastri dan ke 5 anak yatim piatunya memang tidak memiliki rumah. Sebelumnya mereka menempati rumah sederhana di pekarangan milik tetangga.
"Belakangan karena ada suatu masalah dengan pemilik pekarangan, kami disuruh pindah," sebut Sulastri.

Beruntung, kata Sulastri, ada saudara baik hati menawarkan rumahnya yang kosong untuk di tempati. Hingga kemudian Tim Dhuafa BG datang menawarkan bantuan membuatkan rumah untuknya serta ke 5 anak yatim piatu.

Kehidupan Sulastri bisa dikatakan serba kekurangan. Untuk mencukupi kebutuhan makan sehari-hari saja, serta menopang biaya hidup 5 anak yatim piatu yang menjadi tanggunganya, Ia bekerja sebagai buruh tani, itupun jika ada yang menyuruh.

Apabila musim panen tiba, Sulastri pergi kesawah untuk memungut sisa hasil panen yang terbuang atau istilah masyarakat setempat menyebutnya "Ngasak". Sisa hasil panen tersebut Dia kumpulkan sedikit-demi sediki. Hasilnya Ia bawa pulang untuk menafkahi ke 5 anak yatim piatu yang Ia rawat sejak setahun lalu.

"Memang tidak banyak hasil yang saya dapat dari hasil ngasak, sebagian saya masak dan sebagian lagi dijual untuk membeli kebutuhan sehari-hari," ujarnya.

Meski hidupnya susah dan serba kekurangan, Sulastri tidak patah arang. Sulastri tetap semangat dan berusaha mencari nafkah agar bisa menghidupi 5 anak yatim piatu walaupun terkadang sering tidak mencukupi.

Sedangkan suami Sulastri terpaksa harus pergi merantau ke Surabaya bekerja sebagai kuli bangunan dengan hasil yang pas-pasan pula. "Suami bekerja di kuli bangunan, saya membantu bekerja di rumah. Semua untuk merawat dan mencukupi kebutuhan 5 anak yatim piatu," terang Sulastri.

Sulastri mengungkapkan, jika ke 5 anak yatim piatu yang dia rawat adalah keponakanya. Mereka di tinggal ibunya setahun yang lalu sejak anak bungsunya masih berumur 2 tahun. Sedangkan ditinggal bapaknya sejak anak yang terakhir masih berumur setahun.

"Memang Ibunya anak-anak ini adik saya, sebelum meninggal dia berwasiat kepada saya agar ke 5 anak-anaknya jangan dikasihkan kepada orang lain, dia minta saya yang merawat sampai mereka dewasa," paparnya. Sulastri dan suami bertekad akan mendidik dan membesarkan 5 keponakanya sekuat tenaga hingga kelak mereka dewasa dan menjadi orang.

"Adik saya dan suaminya meninggalkan 5 anak, yang pertama umur 14 tahun lulus SD, namun tidak mau sekolah lagi karena lebih memilih bekerja membantu mencari nafkah buat adik-adiknya.Si bungsu sekarang umur 3 tahun belum sekolah, " tambah Sulastri.

Sementara Ketua Umum BG, M.Subur menuturkan, jika rumah ibu Sulastri ukuran 4x7 meter yang kini sudah rampung pembangunanya, menghabiskan total dana sekitar 7 juta rupiah lebih.

Memurut Dia, dana tersebut berasal dari sumbangan para donatur tetap, maupun para simpatisan yang peduli kepada Sulastri dan anak yatim piatu, "Berkat dukungan dari para donatur BG dan simpatisan, terutama BG korwil Bali dan lainya, rumah 4x7 milik ibu sulastri dan ke5 anak yatim piatu sekarang sudah bisa dihuni, " ucap Subur. (Eros/RF/Tahrir)

Berita Terkait Sosial Budaya

No comments: