"Selamat Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia Ke 72.", "Selamat Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia Ke 72.","Selamat Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia Ke 72."
Custom Search

Sabtu, 30 Mei 2015

Tidak Percaya APTRI, Petani Tebu Akan Jual Gula Dan Tetes Sendiri

Lumajang, MAJALAH-GEMPUR.Com. Petani tebu PG PTPN XI tidak mempercai APTRI. Mereka menganggap keberadaanya tidak membawa dampak lebih baik, namun justru semakin menyengsarakan petani tebu.

Untuk itu pada musim giling tahun ini, para petani akan meminta kepada ADM PG dan Direksi Perseroan Terbatas Perkebunan Nusantara (PTPN) XI agar gula dan tetes dapat dijual sendiri.  Karena Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) dianggap tidak bisa membawa aspirasi dan memperjuangkan keinginan Petani tebu.

Bahkan mereka menilai keberadaan APTRI sebagai penghalang petani untuk hidup lebih sejahtera.  Pasalnya APTRI terkesan justru  lebih membela kepentingan investor daripada kepentingan petani. Akibatnya selama puluhan tahun petani tetap tertindas dan selalu pada pihak yang dirugikan.

“Gula dan Tetes itu haknya petani, ya kita minta agar dapat dijual sendiri, karena selama ini penjualannya tidak sepengetahuan petani, kalau memnag APTRI betul-betul memwakili petani, seharusnya kita tau, tapi kenyataanya tidak pernah membicarakan dengan kelompok tani dibawah”,  Demikian Kata Ketua Himpunan Petani Tebu Rakya (HPTR) Lumajang H Adli usai  pertemuan Petani dari 5 PG di wilayah Tapal Kuda Sabtu (30/5) di Lumajang

Mengenai tehnis penjualannya (Lelang; red), menurut Adli Tentu akan tetap bekerjasama dengan pabrikan, melalui tim lelang yang akan dibentuk oleh petani bersama pabrikan.  “Untuk itu keinginan perwakilan petani dari  5 PG ini akan kita sampaikan kepada ADM PG dan Direktur PTPN XI di Surabaya”.  Jelasnya

Selanjutnya dibahas dalam Forum Temu Kemitraan (FTK) mulai dari, tebang, biaya angkut, rendemen, teknis lelang gula dan tetes dan sebagainya. “Agar benar-benar membawa aspirasi petani, kita minta Koordinator FTK dari petani,  termasuk tandatangan kontrak harus dirapatkan dulu, jangan didatangi sendiri-sendiri. Pungkasnya.

Hal senada disampaikan, Holik. Menurut petani tebu asal Semboro, bahwa petani selalu dibodohi. Seperti tertera dalam draf Kontrak diselipkan kata-kata yang melemahkan petani. Dalam Pasal 5 (Penjual Gula dan Dana Talangan) disebutkan  “Atas persetujuan Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) pihak kedua akan bekerjasama dengan investor yang bersedia untuk memberikan dana talangan kepada pihak pertama…… dst", 

"APTR itu siapa,? yang jelas dong, kita minta yang dimaksud APTR itu adalah Himpunan, kelompok, Paguyuban atau organisasi yang ada dan dibentuk petani di masing-masing Pabrikan.  Itu kita sepakat, tapi kalau yang dimaksud APTRI kita tidak sepakat, kalau tetap seperti itu, kita akan tolak ” tegasnya.

Dukungan serupa juga datang Petani senior dari Probolinggo H Hasan, bahkan Ketua paguyuban PG Wonolangon  berlogat Madura,  meski merangkap ketua APTRI Prbolinggo merasa muak selama 15 tahun di “Cokoco (dipermainkan) APTRI. Bahkan H Hasan berharap keinginan petani didukung direksi, kalau perlu lelang bisa dilakukan dimasing-masing pabrik.  Jika Petani dapat lelang sendiri maka keuntungan petani akan semakin besar termasuk Fi yang selama ini dinikmati orang lain dapat diambil petani sendiri.

“Jangan kuatir tidak ada yang beli, Tapi ini rahasia ya, (jangan dikasih tau siapa-siapa) , tebu paguyuban saya mulai beberapa tahun yang lalu sudah ada yang menalangi, termasuk juga sudah ada yang nawar tetes seharga 1.000  per kilogram, bahkan ada pabrik yang mau membeli Kotoran ampas tebu 35 juta per hektarnya”.  Jelasnya.

Dukungan juga datang dari petani tebu yang lain , bahkan munculnya organisasi petani tebu diluar APTRI  dan pertemuan ini  memang karena kecewaan kepada APTRI “ Selama menjadi petani saya tidak kenal APTRI, taunya setelah panen ada ada potongan sering tetes 1000 rupah per 3 kg, termasuk ada potongan DO,” Kata H Didik petani asal Tempeh lumajang .

Petani asal Semboro yang lain Iswahudi, juga mendukung gerakan ini, namun Iswahyudi berharap agar petai tetap  tidak bosan  menanam tebu, “sambil berjuang, kita harus tanam tebu, karena kita hidup dan dibesarkan oleh tebu, jika mau memperjuangakan sampai ke direksi kita akan dukung sepenuhnya, ”.  Harapnya. (eros)

Berita Terkait Pertanian

Tidak ada komentar: