"Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017"
Custom Search

Sunday, 7 June 2015

Rumah diJual Anak Angkat, Ayah Jadi Pemulung

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Gara-gara rumah peninggalan istri dijual anak angkat, ayah tiri hidup memulung. Kondisi ini dialami kakek tua tinggal di bantaran sungai yang berada di jalan Manggar gang Nusa Indah Gebang

Tri Kasmani (80) warga RT 2 RW 18 Lingkungan Gebang Poreng Kelurahan Gebang Kecamatan Patrang. Sudah lima tahun P Tri yang kesehariannya hidup dengan mencari barang rongsokan untuk di jual kembali hidup sebatang kara di gubuk dengan ukuran 3 x 4 meter hasil swadaya warga setempat.

Saat Memo berkunjung di rumahnya Minggu (7/6), P Tri sedang membersihkan badan karena seharoian bekerja mencari baragng rongsokan. Setalah selesai sholah ashar kepada Memo yang di persilahkan maasuk ke dalam gubuk yang banyak tumbukan barangh rongsokan di sana-sini.

“ Mohon maaf nak ya begini ini rumah saya berantakan, banyak barang rongsokan untuk di jual lagi. Biasanya seminggu sekali saya mencualnya mas. Dapatnya anatar 60-70 ribu seminggunya, “ kata P Tri sambil mempersilahkan Memo masuk kedalam rumah.

P Tri membuka awal kisah hidupnya. Dirinya menceritakan awal kedatangannya ke Jember untuk merantau dan mencari kerja. Awal kerja sebagai sopir di PTP sejak tahun 1960. Hingga berakhir tahun 1972 dimana saat itu terjadi krisis keuangan sehingga berakibat pengurangan pegawai besar-besaran, termasuk P Tri juga ikut di rumahkan.

“ Hampir semua karyawan saat itu di berhentikan mas mulai pegawai kecil seperti saya hingga mandor, kecuali sinder yang aman, karena krisis keuangan,“ ujar P Tri menerawang masa lalunya.

Selepas dari PTP dengan pesangon yang tidak seberapa, P Tri kemudian menikah dan tinggal di Jalan Manggar gg Kelapa di tahun yang sama 1972. Setelah menikah dengan Gati tahun 1972, karena belum di karuniai anak sang istri mengangkat anak dari saudaranya di tahun 1974 saat sang anak berusia 12 tahun.

“ Istri saya minta ngangkat anak namanya Elli Handayani mas, dia anak dari ipar saya atau kakak dari istri, “ imbuh P Tri.

Kemudian  P Tri mencari pekerjaan hingga menjadi sopir Bus Akas sampai tahun 1992. Selepas bekerja sebagai sopir Bus Akas, P Tri merantau ke Pulau Kalimantan.

Sebelumnya P Tri menyampaikan amanat kepada Elli untuk menjaga ibunya yang dalam kondisi sakit serta menitipkan surat tanah. Namun kepercayaan itu hilang saat P Tri mendengar istrinya meninggal dan Elli menjual rumah karena memiliki hutang yang banyak.

“ Saya juga kaget mas, dengar istri meninggal dan rumah mau di jual oleh Elli. Ketika saya pulang dan bertemu anak angkat saya si Elli, Saya menolak mempertahankan untuk tidak menjual rumah ini. Hingga lama-lama batin saya mengatakan untuk melepas rumah itu mas, “ sedih P Tri dengan mata yang berkaca-kaca.

Singkat cerita rumah itu terjual seharga 60 juta di tahun 2009 yang di beli oleh warga Bali. Hasil penjualan rumah itu tak sepeserpun di bagi kepada P Tri yang merupakan ayah angkat yang sudah mengasuh dan membesarkan dirinya.

“ Sebenarnya sayang mas jika rumah itu di jual. Dengan ukuran 12 x 15 jika sekarang bias dua kali lipat bahkan tiga kali lipat. Tapi saya gak berdaya dan memasrahkan ke Elli unuk dijual, “ tambah  P Tri.

Pasca penjualan rumah itu, Elli pindah ke tempat lain hingga sekarang. P Tri juga kesulitan memantau keberadaan Elli yang sudah berkeluarga. Hidup P Tri pun tak menentu. Terkadang tidur di emperan warga sekitar.

Karena merasa iba, warga sepakat untuk membuatvtenpat tingal bagi P Tri yang di buat dari anyaman bamboo sederhana untuk tempat bertedeh dan istirahat bagi P Tri hingga sekarang.

Kepada Memo P Tri mengaku belum pernah mendapat bantuan dari pemerintah, muali dari jatah beras miskin (raskin), bedah rumah, jamkesmas, BLT maupun PSKS yang terbaru meski dirinya memilki KTP setempat.

Sementara itu P Anton Ketua RT 2 yang merupakan RT dimana P Tri tinggal kepada Memo mengatakan, “ Awalnya P Tri itu pendatang mas di sini. Dia warga Tulung agung yang kemudian menikah dengan B Gati warga gg Kelapa yang sudah memiliki anak angkat dari kakaknya, “ tuturnya.

Masih kata P Anton, “ untuk bantuan dari pemerintah memang sulit mas karena masalah administrasi kependudukan dari P Tri yang tidak segera di urus. Waktu itu masih ber KTP Tulungagung. Baru saya urus sebulan yang lalu mas dan baru dapat seminggu sudah ber KTP di sini, “ bebernya.

P Anton juga menerangkan bahwa selama ini P Tri juga sudah dia bantu yang dirupakan dengan uang dalam sebulan untuk menambah memenuhi nkebutuhan hidup sehari-hari P Tri. (dik)

Berita Terkait Sosial Budaya

No comments: