"Selamat kepada 14 Partai Politik Nasional dan 4 Partai Politik Lokal Aceh yang lolos menjadi peserta Pemlihan Umum Tahun Tahun 2019"

Wednesday, 9 October 2019

Terkait Kasus Penganiayaan, Komisi B DPRD Jember Sidak Rumah Bernyanyi Camp'Us 888

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Saat sidak tempat terjadinya kasus penganiayaan di Rumah Bernyanyi Camp'Us 888, Komisi B DPRD Jember menemukan minuman keras dengan kandungan alkohol tinggi.

Tampak dalam Inspeksi mendadak (sidak) dirumah bernyanyi yang diketuahui habis masa izinnya ini, Anggota Komisi B DPRD bersama jajaran Dinas Perdagangan (Disperindag), Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Dinas Pariwisata Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember, aparat Kepolisian dan Satpol PP.

"Hasil sidak hari ini sangat memprihatinkan dan mencengangkan, saat digeledah ditemukan 5 pria dan 4 wanita membawa minuman keras semacam arak, juga room lainnya diketemukan minuman beralkohol kategori tinggi 17 persen," kata Ketua Komisi B DPRD Jember, Siswono. Rabu (9/10/2019) siang

Padahal, lanjut dia, hal itu sudah ditegaskan oleh aturan menteri perdagangan tentang larangan penjualan minuman beralkohol dengan kadar tinggi. Namun, masih saja ada beberapa tempat hiburan yang melanggar memperjual-belikan, termasuk tempat karaoke Camp'Us 888.

"Saat kasir ditanyai tentang izin penjualannya, ternyata mereka bilang tidak punya. Juga, izin usaha untuk tempat karaoke ini faktanya tidak ada datanya di dinas terkait, masa berlakunya sudah habis sejak 26 April 2019. Artinya, 6 bulan lebih mereka jalankan usaha tanpa izin beroperasi," tambahnya.

Karena itu, politisi Gerindra ini mendesak instansi pemerintah terkait menindak tegas karena pelanggaran yang dilakukan Rumah Bernyanyi Camp'Us 888 sudah disertai bukti-bukti yang valid dan reliabel. Dikhawatirkan, apabila dilakukan pembiaran dapat mendorong merebaknya pelanggaran tempat-tempat hiburan lainnya.

"Tapi nanti kami koordinasikan dengan pimpinan untuk direkomendasikan Camp'us 888 ditutup sementara dalam rangka pembinaan, bisa juga ditutup selama-lamanya, melihat situasi dan kondisi kanan kirinya terletak ditengah kampus. Tentunya menganggu proses belajar mengajar," tegasnya.

Diketahui, kasus rumah hiburan plakat karaoke keluarga Camp'Us 888 berbuntut panjang setelah mencuatnya kasus korban penganiayaan terhadap mantan anggota DPRD Jember dari PDI Perjuangan Maman Sabariman, yang terbaring kritis di rumah sakit.

"Kan kejadiannya di tempat karaoke ini, yang jelas ini temuan penganiayaan saudara Maman, ini kasuistik, untuk itu kami mengarahkan permintaan konfirmasi kepada pihak Karaoke Camp'Us 888. Dewan akan merekomendasikan untuk mengkaji apakah ini layak diterbitkan izin perpanjangan. Ini izin perpanjangan hasil kajian bisa ditutup sementara," ungkapnya.

Sementara Kepala Satpol PP Jember Arief Cahyono menuturkan, petugas baru akan bertindak sebagai penertiban jika ada permintaan dari dinas atau instansi teknis terkait. Tentu permintaan penertiban dan penindakan itu ada aturannya yang memiliki dasar kuat.

"Kami bisa bertindak untuk bantuan penertiban dari OPD teknis dalam hal ini PTSP. Biasanya PTSP ini akan menerbitkan surat peringatan, setelah itu meminta bantuan penertiban dan penindakan kepada kami, tapi dasar bantuan penertiban dan penindakan itu harus tertera di surat OPD teknis tersebut," katanya.

Karena menurutnya, hukum adalah semua aturan, tidak boleh ada keputusan dilakukan jika tidak sesuai administrasi dan merugikan. “Fakta tidak bisa menghilangkan administrasi, kami juga menghindari sebagaimana sudah disampaikan di ruang sidang, karena indikasi hukumnya kepada kami bagaimana, jangan sampai ada penindakan tetapi ada tindakan balik, seperti di Lumajang,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya bahwa dirumah bernyanyi tersebut, terjadi kasus penganiayaan terhadap Maman Sabariman, yang mengakibatkan korban tidak sadarkan diri dan harus dirawat di runag ICU Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Soebandi. (eros).

Berita Terkait Politik dan Hukum

No comments: