"Majalah Gempur Online kini hadir di Aplikasi Play store atau Google play. Untuk berlangganan berita-berita terbaru kami, silahkan download Aplikasi ini: https://play.google.com/store/apps/details?id=org.mysel.majalahgempur"

Tuesday, 2 June 2020

Mau Ke Bali, Persiapkan Surat Ini, Jika Tidak Ingin Ditolak

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com.  Puluhan Warga Jember Jatim yang hendak balik-mudik Ke Bali Selasa (2/6/2020) melakukan Rapid Tes Kesehatan (Rapid Test) secara mandiri di RSD dr Soebandi.

Pasalnya surat itu prasyarat untuk masuk ke Pulau Dewata, Jika tidak dapat menunjukkan, mereka bakal  ditolak masuk  ke Pulau Dewata ini. Disamping Rapid Test, mereka juga harus mempunyai Surat Kesehatan dari Puskesmas atau Rumah Sakit.

Hendrik (34), warga Warga Dusun Tegal Kalong, Desa Kemuningsari Kidul, Kecamatan Jenggawah, Kabupaten Jember yang kampung pada Maret 2020 lalu ini mengaku baru tahu jika untuk menyeberang ke pulau Dewata dirinya harus memiliki Surat keterangan mengikuti rapid tes.

Mendapat informasi kalau ke Bali harus membawa hasil rapid test, Pria yang sudah 20 tahun bekerja di bengkel las ini langsung ke RS dr Soebandi. Pasalnya kedatangan dibutuhkan karena pekerjaannya menumpuk. “Saya sudah kali kedua kesini, karena dibatasi”, jelasnya.

Lutfiana Nurcahyani (29), mangeluhkan mahalnya biaya, lantaran harus mbayar Rp 475 ribu. "Sebenarnya berat, lebih mahal suratnya dari pada tiketnya. Tapi bagaimana lagi, saya dipanggil kerja. Daripada menganggur tidak bisa berangkat ke Bali," ungkap perempuanasal Jenggawah ini.

Direktur Rumah Sakit Daerah dr Subandi dr Hendro Soelistijono melalui dr  Triwiranto bidang pelayanan medis menerangkan, rapid test mandiri bukan sebagai penegakan diagnosis Covid-19 tetapi sebagai salah satu bagian dari screening Covid-19.

"Sebab untuk menentukan langkah dan tahapan menentukan Covid-19 itu, apabila dari hasil rapid test reaktif maka masih ada tahapan lagi bahkan kalau pun non reaktif tidak menjamin bahwa itu bebas Covid-19," terang dr Triwiranto.

RSD tidak boleh mempromosikan rapid test, dan tidak boleh digunakan sarana penegakan diagnosa Covid-19 tes secara berlebihan. "Kami hanya melayani permintaan rapid test mandiri, surat itu bukan merupakan bebas Covid-19, hanya non reaktif dan reaktif saja," jlentrehnya.

Sementara untuk persediaan dan stok rapid test menjadi barang langka itupun dalam kondisi sekarang harga mahal. Pasalnya menggunakan barang yang telah direkomendasikan oleh BPOM dan rekomendasi dari Kemenkes RI sehingga membeli yang rekomendit.

“Untuk stok sudah standart, tetapi kami utamakan untuk pasien yang dirawat dan tenaga kesehatan diruang isolasi perlu pemantauan dilakukan rapid test, kedepan dalam waktu dekat telah memesan ketersediaan rapid test yang standar harga lebih terjangkau," lanjutnya

Sementara  untuk biaya masih sedikit mahal karena barang tersebut pembelian awal sedang langka tapi kami sangat membutuhkan, tapi sekarang sudah order pilihan yang juga memenuhi standard medis akan lebih terjangkau sekitar 350 ribu. (wht).

Berita Terkait Kesehatan

No comments: