"Selamat kepada 14 Partai Politik Nasional dan 4 Partai Politik Lokal Aceh yang lolos menjadi peserta Pemlihan Umum Tahun Tahun 2019"

Monday, 26 August 2019

Jejak Perjalanan Nur Ahmad Zuhri, Pembabat Wisata Pancer, Jember

Nur Ahmad Zuhri saat diwawancara di tempat penitipan kendaraan miliknya, kredit foto: Fahmi/MG

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com - Wisata Pancer yang terletak di Kecamatan Puger sebelummya hanyalah plawangan biasa, tempat pintu masuknya nelayan mencari ikan ke laut lepas, tidak ada yang istimewa. Tapi, plawangan itu kemudian menjadi wisata yang iconik dengan keindahan batu pemecah ombak serta deretan warung dan lokasinya semakin menarik dengan tambahan pohon cemara serta kebersihan sekitar pantai.


Nur Ahmad Zuhri adalah orang yang paling berperan sekaligus pembabat wisata Pancer. Kehadirannya awal tahun 2006 silam, semula hanya ingin menjadikan bibir pantai Pancer sebagai tempat berlatih silat, terlebih melatih kekuatan fisik. Namun, Nur Ahmad Zuhri lama kelamaan tertarik untuk buka warung ikan bakar, sayangnya satu tahun berjalan warungnya minus dan bangkrut lantaran sepi pengunjung.

"Awalnya, sebelum saya datang ke wisata pantai plawangan Pancer Puger ini tahun 2006, sudah ada yang datang namanya Madhori. Saat itu, masih berupa alas tidak seperti sekarang, niat saya tempat ini untuk berlatih anak-anak silat, melatih fisik di bibir pantai namun kemudian saya ada minat untuk mendirikan warung ikan bakar, waktu itu masih tiga warung dan pengunjung tidak sebanyak sekarang sehingga berjalan satu tahun justru minus dan bangkrut," kenang Nur Ahmad Zuhri, saat kami temui di tempat penitipan kendaraan miliknya, Senin 26 Agustus 2019.

Mengalami kebangkrutan, tidak membuat Nur Ahmad Zuhri putus asa, ia mendirikan penitipan kendaraan, menurutnya penitipan tidak bakalan basi seperti makanan. Nur, demikian panggilannya, buka penitipan kendaraan bersama paguyuban. Setelah berdiri penitipan, Nur bersama paguyuban setiap sore bersih-bersih, harapannya supaya pengunjung semakin banyak.

"Alhamdulillah, allah memberi jalan dengan adanya pembangunan pemecah gelombang, sehingga kami juga diuntungkan sebab juga dilakukan pengebrukan jalan dan jalannya pun lebih baik dibandingkan sebelumnya. Dari sana, pengunjung mulai meningkat, sampai ada yang mengendarai mobil. Tidak berselang lama, ada lagi proyek pemecah gelombang kedua, sehingga jalan semakin baik, pengunjung pun semakin banyak," ungkap Nur.

Melihat wisata Pancer semakin rame pengunjung, Desa Puger Kulon masa Nur Hasan menjabat Kepala Desa, membuat pintu masuk dan akhirnya ada karcis masuk Pancer. "Kami minta supaya yang di dalam ini mendapatkan penghasilan selain dari warung, untuk pengembangan wisata pancer, sehingga Nur Hasan melepas parkiran agar tidak ditarik di depan, dari sana banyak yang buka penitipan. Namun, tempat kami strategis sebab dekat dengan wisata sehingga pengunjung memilihmenitipkan di sini," ujar Nur.

Hasil penitipan kendaraan, sambung Nur, sekian persen dibuat untuk pengembangan wisata Pancer, dari pendapatan keseluruhan, 50 persen untuk karyawan sebab terkadang ada juga nelayan yang ketika paceklik dan sedang tidak menangkap ikan kerja di sini. Pengembangan wisata Pancer ini, murni tanpa adanya bantuan dari siapa pun dan memang enggan minta sumbangan. Meski demikian, Nur bersyukur sudah bisa seperti saat ini. 

Paguyuban di sini, kata Nur, semula anggotanya 40 orang, lantaran sepi pengunjung sedikit demi sedikit angkat kaki sehingga sekarang tinggal empat orang. Sebagai ketua paguyuban, Nur mengaku tidak hanya fisik yang ia berikan, finansial pun dikeluarkan Nur untuk pengembangan wisata Pancer, "Saya berikan semua agar pengunjung rame," ucap Nur. Ia bersyukur, PLN pun masuk dan pengunjung tambah rame sampai saat ini. (RF).

Berita Terkait Hiburan

No comments: