"Majalah Gempur Online kini hadir di Aplikasi Play store atau Google play. Untuk berlangganan berita-berita terbaru kami, silahkan download Aplikasi ini: https://play.google.com/store/apps/details?id=org.mysel.majalahgempur"

Thursday, 23 April 2020

Sejak 10 April, Bandara Notohadinegoro Sudah Memiliki SBU Permanen

Kepada Dinas Perhubungan Kabupaten Jember Hadi Mulyono dan Kepala UPT Bandara Notohadinegoro Edy Purnomo, Doc: RF/Majalah Gempur


Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com – Bandara Notohadinegoro akhirnya memiliki Sertifikat Bandara Udara (SBU) permanen setelah melengkapi persyaratan dan mengajukan ke Kementerian Perhubungan. Sebelumnya SBU bandara kebanggaan warga Jember ini sempat mati 20 Maret 2018 silam dan mengajukan ke Kementerian Perhubungan hanya keluar SBU sementara pada tanggal 22 November sampai 22 Desember 2019.


Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Jember, Hadi Mulyono mengatakan, saat ini Bandara Notohadinegoro sudah memiliki sertifikat bandara yang sifatnya permanen. Sebagaimana SBU yang dikeluarkan Kementerian Perhubungan tertanggal 10 April 2020 dengan masa waktu 3 tahun ke depan 2023.

“Terkait keberadaan SBU tersebut, memang beberapa waktu yang lalu banyak menyita perhatian masyarakat, utamanya dari dewan karena SBU sempat mati pada 20 Maret tahun 2018. Sejatinya, proses pengajuan tidak ada halangan sebab sebelumnya sudah mengajukan permohoan tapi ada beberapa persyaratan untuk menerbitkan SBU itu yang harus terkucupi dan membutuhkan proses,” ujar Hadi Mulyono.

Tahun 2019 kemaren, sambung Hadi, setelah dewan datang sempat terbit 2 kali SBU yang sifatnya sementara. Keberadaan SBU sementara itu pada tanggal 22 November sampai 22 Desember 2019, di tengah waktu itu Dishub komunikasi dengan Kementerian Perhubungan untuk difasilitasi persyarata-persyaratan apa yang harus dicukupi.

“Setelah kita ketemu disarankan untuk mengajukan permohonan lagi dengan beberapa persyaratan yang harus tercukupi, dan berikutnya kita mengajukan permohonan perpanjangan SBU lagi dengan kelengkapan beberapa persyaratan, di perjalanan itu mulai bulan Januari sampai Februari tim dari Kementerian datang ke lapangan, setelah persyaratan kita penuhi, ditindak lanjuti oleh tim dari Kementerian Perhubungan untuk melakukan verifikasi persyaratan sekaligus assement untuk kelengkapan dan alhamdulillah kemaren sudah turun untuk SBU permanen,” ungkap Hadi.

Menurut Hadi, secara legal formal keberadaan bandara ini sudah ada bukti autentik, meski sebelumnya sudah. Namun, proses administrasi sudah dilayangkan otomatis keberadaan bandara sudah termonitor di Kementerian Perhubungan. Hanya saja, sekarang lebih sempurna.

Hadi menjelaskan, persyaratan yang harus dilengkapi dan sudah tercukupi diantaranya, adanya kelembagaan organisasi yang ada di bandara, sudah ada UPT nya dan sudah resmi. Sudah ada SOP, termasuk Safty Managemen. Semuanya, sudah dipenuhi dan diverifikasi Kementerian Perhubungan, termasuk penanganan yang sifatnya darurat juga sudah terpenuhi.

Selain itu, lanjut Hadi, persyaratan perpanjangan harus membayar pajak pendapatan negara bukan pajak, juga sudah terpenbuhi. Sehingga SBU terbit per 10 April kemaren. “Mudah-mudahan ke depan sudah tidak ada informasi yang sifatnya kurang tepat dan sebagainya padahal itu kita sudah lalui semua,” harap Hadi.

Sementara itu, Kepala UPT Bandara Notohadinegoro, Edy Purnomo menyampaikan bahwa bandara sebelum terjadi Epidemi Corona berjalan dengan normal. Maskapainya Wings Air saja dan berjalan setiap hari dengan penumpang diatas 70 persen. Sekarang, sejak mulai ada wabah corona, maskapai mulai mengurangi frekuensi penerbangannya karena memang penumpangnya berkurang.

“Semula setiap hari, jadi empat hari dan karena masih kurang. Akhirnya, dikurangi lagi menjadi dua kali seminggu, hanya hari Jum’at dan hari Minggu, itu pun beberapa minggu ini tidak terbang sebab tidak ada penumpangnya. Kalau pun ada, masih tidak masuk hitungan sehingga kalau pun diterbangkan mereka akan rugi. Jadi, sangat berdampak sekali,” terang Edy.

Edy menjelaskan, Bandara Notohadinegoro hanya melayani rute ke Surabaya dan sebagian besar penumpang yang ke Surabaya. Final tujuannya Jakarta, sementara diketahui semua bahwa Jakarta dan Surabaya adalah zona merah. Jadi, tidak ada orang keluar masuk Jakarta-Surabaya sehingga penumpangnya sepi.
“Surabaya juga sudah dilakukan segala prosesdur untuk menanganani wabah corona. Sebenarnya untuk ke Jember masih ada, besok itu ada penumpangnya dari Surabaya 17 penumpang, dari Jember 7 orang dan ini belum tentu terbang juga sebab bisa jadi sewaktu-waktu mereka membatalkan sehingga nanti akan berkurang lagi penumpangnya,” kata Edy.

Edy berkata, terbang dan tidaknya maskapai tergantung kepada maskapai sendiri, kalau hitungan masuk terbang. Kalau tidak, yang batal terbang. Meski demikian, bandara tetap melayani. Selama wabah corona ini, bandara melayani dari Polsek, Danramil serta petugas kesehatan selalu melakukan check kesehatan dan sejauh ini belum ada penumpang yang dikirim ke JSG sebab suhu tubuhnya normal dibawah 37. (RF)


Berita Terkait Pemerintahan

No comments: