"Majalah Gempur Online kini hadir di Aplikasi Play store atau Google play. Untuk berlangganan berita-berita terbaru kami, silahkan download Aplikasi ini: https://play.google.com/store/apps/details?id=org.mysel.majalahgempur"

Monday, 21 December 2020

Aktivis Ampel dan GMNI Jember Pasang Stiker Tolak Tambang Pasir Besi

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Aktivis Ampel dan GMNI Jember pasang stiker 'Keluarga Besar Tolak Tambak Dan Tambang Pasir Besi" ke rumah-rumah warga sekitar pesisir pantai Paseban Kecamatan Kencong, kabupaten Jember.

Penempelan stiker ini sebagai simbol penolakan masyarakat Paseban atas keinginan PT Agtika Dwi Sejahtera yang akan menambang pasir besi di tanah negara kawasan pesisir pantai selatan. Aksi ini merupakan kelanjutan dari aksi demo tolak tambang pada Jumat (18/12/'20) lalu.

Ketua DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) kabupaten Jember, Dyno Suryandoni mengatakan, aksi pemasangan stiker ini merupakan kesepakatan antara pemerintah desa, masyarakat desa, Ampel dan GMNI.

"Kami terus mendampingi  masyarakat Paseban yang resah, gelisah dan tidak tenang dengan adanya posko semi permanen, ada kecurigaan investor tambang mulai bermanuver mempropagandakan bahwa sudah ada ijin dan lain sebagainya." Tegasnya

Menurut Dyno, dari informasi yang dihimpun GMNI, bahwa masyarakat Paseban mayoritas menolak pertambangan, meskipun tidak menutup kemungkinan ada yang kontra/berseberangan dengan sikap masyarakat secara mayoritas.

"Sikap GMNI terhadap pertambangan, satu suara satu visi, baik dengan Aliansi Masyarakat Peduli Lingkungan (Ampel) dan Masyarakat, beserta pemerintah desa, kami tetap mempertahankan tanah kawasan pesisir dari segala bentuk aktifitas pertambangan sekaligus pertambakan."ujarnya.

Hingga saat ini mereka mengaku tetap mempertahankan sikap menolak kehadiran pertambangan karena akan berdampak buruk terhadap lingkungan. Kehadiran tambang di manapun dan sampai kapanpun berdampak buruk dan merugikan masyarakat.

"Bunakn hanya berdampak air laut masuk ke air tawar. Dampak penambangan juga berimbas pada sektor pertanian, di mana 80 % masyarakat Paseban bergantung hidupnya pada sektor pertanian da  mengancam ruang hidup masyarakat Paseban." Ungkapnya.

Untuk itu mereka akan terus melakukan penguatan kesadaran, sikap masyarakat yang tetap menolak keberadaan segala aktifitas bisnis tambang, agar masyarakat tidak terlena dan lalai. " Kita ingin masyarakat tenang, teduh dan tidak terganggu oleh korporasi tambang." Pungkasnya. (Yud).

Berita Terkait Lingkungan

No comments: